KAB. SERANG – Menyusul polemik dan penolakan warga terkait dugaan penebangan pohon di kawasan hutan Gunung Pinang pada akhir April lalu, Perum Perhutani KPH Banten melakukan penanaman kembali sebanyak 250 batang pohon di kawasan hutan Gunung Pinang, Kabupaten Serang.
Diketahui, penanaman itu dilakukan di lahan seluas 0,075 hektare sebagai bagian dari program revitalisasi kawasan.
Kepada BantenNews.co.ied, Kepala Subseksi Hukum, Kepatuhan, dan Komunikasi Perusahaan Perhutani KPH Banten, Adang Mulyana, mengatakan kegiatan penanaman telah berlangsung sejak 19- 20 Mei kemarin.
“Jenis pohon yang ditanam meliputi mahoni, kayu putih, dan akasia,” ujar Adang saat ditemui BantenNews.co.id pada Kamis, (22/5/2025).
Adang menegaskan, lahan yang direvitalisasi memang telah ditetapkan sebagai area tanam kembali. Ia membantah tudingan adanya penebangan liar. Menurutnya, tidak ada satu pun pohon sehat yang ditebang.
Kata Adang, pohon yang dipotong merupakan pohon tumbang yang dinilai membahayakan keselamatan pengunjung.
“Bukan penebangan, melainkan pembersihan pohon tumbang. Kondisi geografis Gunung Pinang yang berbatu dan soilnya tipis membuat akar pohon tidak kuat. Banyak pohon miring dan rawan tumbang,” jelasnya.
Ia menambahkan, selain faktor kontur tanah, kerapatan vegetasi juga turut berkontribusi terhadap kerentanan pohon.
“Pohon di area yang rapat saling berebut cahaya, jadi batangnya tumbuh bengkok. Kalo di area agak terbuka, pohon cenderung tumbuh lurus dan kuat,” katanya.
Perhutani, lanjut Adang, mengklaim akan tetap memprioritaskan fungsi produksi kawasan hutan, meski statusnya bukan hutan lindung.
“Kerja sama dengan pihak ketiga harus tetap menjaga fungsi kawasan. Itu prinsip utama kami,” ujarnya.
Lebih jauh, soal keterlibatan pihak ketiga dalam proyek revitalisasi ini, Adang menyebut dokumen perizinan internal telah lengkap. Namun izin lingkungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten masih dalam proses.
“Kelanjutan proyek kami serahkan kepada pemohon. Kami hanya menunggu hasil dari DLHK,” katanya.
Dalam menghadapi musim kemarau, Perhutani juga mengaku telah melakukan penyiraman rutin terhadap pohon-pohon yang baru ditanam.
“Kalau tidak turun hujan, penyiraman dilakukan setiap hari,” ujar Adang.
Kata Adang, pembersihan vegetasi juga dilakukan di area wisata seperti Rumah Hobbit dan flying fox. “Kadang tampak seperti bekas penebangan, padahal itu hanya pembersihan pohon tumbang. Kami potong untuk memudahkan pemindahan,” pungkasnya.
Penulis: Rasyid
Editor: Usman Temposo
