Hari Buruh yang setiap tahun diperingati dengan suara riuh pekerja pabrik, pegawai kantor atau lapangan. Tuntutan yang selalu diteriakkan seperti upah layak, jam kerja dan perlindungan kerja bagi buruh. Ini tentunya penting untuk terus dicermati bagi para pemangku kebijakan dalam mengevaluasi sistem atau regulasi yang berjalan saat ini.
Namun, dibalik itu semua… ada kelompok yang diam dalam sunyi, tanpa mengeluh, bekerja dengan ikhlas dengan harapan penuh untuk memenuhi semua kebutuhan, baik rumah tangga, keluarga maupun kebutuhan dirinya sendiri. Ya… ini adalah kelompok perempuan yang kadang berada di gerbong belakang yang tak nampak dan mungkin menjadi korban dari perjuangan itu sendiri seperti cerita dibalik tragedi kereta api di Bekasi.
Perempuan menjalani banyak peran dalam satu waktu, mulai dari waktu subuh mempersiapkan keperluan rumahtangga, memastikan semua berangkat dengan perut kenyang dan tampilan yang licin namun tak lupa mempersiapkan dirinya sendiri juga untuk berangkat ikut berjuang menghidupi keluarga. Hingga sore bahkan malam baru bisa melepas penat sampai tertidur tanpa mimpi. Semua ini dilakukan setiap hari tanpa tanggal merah di kalender hatinya, juga tanpa tambahan upah lembur dan tidak kenal cuti. Perempuan tetap ikhlas melakukan ini bahkan masih sempat mendoakan seluruh isi rumah di sepertiga malamnya.
Pekerjaan pada sektor formal yang dilalui perempuan terus menghadapi tantangan. Sulitnya naik jenjang karier, upah lebih rendah, kesempatan yang terbatas dan beban ganda yang terus dipikul. Hari buruh seharusnya menjadi momen yang jujur untuk melihat bagaimana peran perempuan yang tak terlihat di ruang publik, tak selalu tercatat di pelaporan perusahaan dan kadang tidak selalu berbentuk gaji bulanan.
Disini, ada kerja yang dilakukan dengan cinta, kesabaran dan dengan pengorbanan yang ikhlas yang justru kadang tak bisa dihitung. Perempuan-perempuan ini bukan hanya bekerja untuk menggugurkan tanggung jawab kantor, tapi juga untuk menopang kehidupan yang semakin hari carut marut harga-harga dipasar.
Di sudut lain kehidupan, ada perempuan muda yang baru saja memulai langkahnya di dunia kerja. Dengan mimpi yang masih hangat dan semangat yang belum padam, ia belajar bertahan di tengah tekanan, ekspektasi, dan tuntutan profesional yang kadang tak ramah. Ia ingin mandiri, ingin membanggakan keluarga, sekaligus mencari jati diri di antara kerasnya realitas.
Di waktu yang sama, ada perempuan yang bekerja sambil menyusui. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi tanggung jawab tak bisa menunggu. Di sela rapat, ia memompa ASI. Di antara lelah, ia tetap tersenyum. Ia bukan hanya pekerja, tapi juga sumber kehidupan bagi anaknya. Perjuangannya sunyi, tapi nyata.
Tak jauh dari sana, ada pula perempuan yang hampir pensiun. Rambutnya mungkin mulai memutih, tenaganya tak lagi sama, namun dedikasinya tetap utuh. Ia telah melewati puluhan tahun bekerja, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mimpinya sendiri demi keluarga dan pekerjaan. Kini ia hanya berharap dihargai, diingat, dan tidak dilupakan begitu saja.
Di antara semua itu, ada peran pria yang hadir sebagai pasangan, ayah, atau rekan kerja yang seharusnya menjadi penopang, bukan penambah beban. Namun pada akhirnya, perempuan tetap berdiri, dengan kekuatannya sendiri yang tak selalu terlihat, tapi selalu terasa.
Sudah waktunya memperluas cara pandang tentang pekerjaan perempuan. Buruh tidak selalu menggunakan seragam, tapi juga yang setiap hari memastikan dapur tetap ngebul, susu tetap ada, pakaian yang selalu bagus dan kehidupan harus terus berjalan meski tanpa pengakuan.
Pada akhirnya ada jutaan perempuan yang bekerja tanpa menyebut dirinya buruh. (*)
Asih Kurnianingsih, SE., MM, Dosen Unbaja
