Beranda Peristiwa Perdana, Warga Suralaya Gelar Haul Buyut Kahal

Perdana, Warga Suralaya Gelar Haul Buyut Kahal

Warga Suralaya saat menghadiri Haul Buyut Kahal. (Ist)

CILEGON – Ratusan warga Kelurahan Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon secara khidmat turut menghadiri peringatan Hari Besar Islam 1 Muharram 1444 Hijriah pada Senin (8/8/2022) malam. Momentum ini tidak seperti biasanya, karena panitia merangkaikannya dengan perhelatan perdana Haul Buyut Kahal dan Launching Yayasan Buyut El-Kahal.

“Buyut Kahal adalah leluhurnya orang-orang Suralaya. Tokoh yang fundamental. Jadi sebuah kepantasan bila kami mengenangnya, zikir dan mendoakannya sekaligus agar tidak sampai putus sejarahnya dari setiap generasi bahwa kita memiliki leluhur yang masyhur,” ungkap Sahruji, Tokoh Masyarakat Suralaya dalam keterangannya.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Cilegon ini mengisahkan, bagaimana dirinya masih mengenang tradisi penghormatan masyarakat setempat terhadap leluhur itu bahkan sudah terbiasa dilakukan secara turun temurun.

“Dulu, orang-orang Suralaya itu setiap akan mengadakan acara seperti pernikahan, sunatan dan lain sebagainya, dengan mengendarai delman atau sado, diiringi kendang, rudat dan ada juga yang pakai gembrung sambil berzikir, mereka diarak berziarah terlebih dahulu menuju makam Buyut Kahal. Sehingga budaya dan syiar Islamnya terus berkembang. Dengan tujuan, ia berziarah untuk mengharapkan keberkahan, karena Buyut Kahal memiliki karomah sebagai orang yang saleh. Nah sekarang, masih ada yang ziarah tapi tidak seramai dulu. Dari para pendahulu, saya bahkan dapat cerita tentang kesaktian yang ditunjukkan Buyut Kahal saat menghadapi bencana letusan Gunung Krakatau tahun 1883,” kenangnya.

Puncak historis kemasyhuran Buyut Kahal, lanjut Sahruji, diperkuat dengan adanya penamaan sejumlah infrastruktur dan benda-benda yang menjadi jejak bukti popularitas Kahal di lingkungan masyarakat setempat.

“Suralaya itu kalah populer dengan nama Kahal. Masyarakat Suralaya, dimana pun ia berada ketika ditanyakan asal-usulnya selalu menjawab sebagai Orang Kahal. Ada nama kali besar yang bermuara ke laut yang dinamakan Kali Kahal. Nah, pada zaman kolonial Belanda, karena keberadaan kali yang besar, maka dibangunlah jembatan penghubung dari Suralaya hingga ke Bojonegara yang dinamakan jembatan Kahal. Lalu ada gunung yang dinamakan Kahal. Dan berikutnya keberadaan lembaga pendidikan SD (Sekolah Dasar) dengan penamaan SD Kahal, bukan SD Suralaya,” terangnya.

Acara yang turut dihadiri Tokoh Agama Kecamatan Pulomerak KH Jamhuri, Tokoh Masyarakat Kecamatan Pulomerak, Haji Juhdi dan beberapa ulama Kelurahan Suralaya itu diwarnai pula dengan penyerahan santunan terhadap anak yatim piatu.

“Harapan kami tentunya Haul Buyut Kahal ini ke depan akan menjadi tradisi tahunan masyarakat, bahkan dapat lebih meriah lagi karena ini kan baru perdana,” tutupnya.

(dev/red)