Beranda Opini Peran Mahasiswa di Masa Pandemi

Peran Mahasiswa di Masa Pandemi

438
0
Febri Ramdani, Fakultas Sastra Indonesia - Universitas Pamulang

Oleh : Febri Ramdani, Fakultas Sastra Indonesia – Universitas Pamulang

Memiliki pemikiran kritis dan terbuka haruslah dimiliki setiap mahasiswa di seluruh penjuru dunia ini. Secara, dari maknanya sendiri kata mahasiswa pun terbagi menjadi dua suku kata yaitu “maha” dan “siswa”.
Maha artinya “ter” dan siswa artinya “pelajar”. Jadi secara pengertian, mahasiswa artinya terpelajar. Maksudnya bahwa seorang mahasiswa tidak hanya mempelajari bidang yang ia pelajari tapi juga dapat mengaplikasikan ilmunya dengan baik dan inovatif.

Beban moral yang dipikul pun begitu besar. Tuntutan sebagai Agent of Change untuk membuat bangsa, negara, dan dunia ini menjadi lebih baik diemban oleh para mahasiswa. Hal-hal tersebut juga perlu didukung dengan baiknya moralitas dan tingkat intelektual yang mumpuni. Pada satu waktu, saya pernah mendengarkan sebuah podcast menarik mengenai tingkatan pola pikir manusia dari “The Balcony” di aplikasi spotify. Yang di dalamnya ada pembahasan teori dari Robert Kegan tentang 5 tingkatan pola pikir manusia.



Mulai dari yang paling dasar adalah Impulsive mind, Instrumental mind, Socialized mind, Self-authoring mind, dan terakhir Self-transforming mind. Pembahasan secara detail mengenai tiap tingkatan pola pikir tersebut tidak saya jabarkan secara detail disini, hanya sedikit gambarannya saja.

Dua tahap awal (impulsive dan instrumental) adalah pola pikir yang dialami setiap manusia mulai dari bayi hingga usia remaja macam keinginan untuk menyusu pada bayi dan barang-barang sekunder serta tersier seperti mainan atau poster artis-artis yang mereka gemari.

Sedangkan tiga tingkatan pola pikir terakhir (fase pola pikir dewasa) dimulai dari fase socialized mind. Fase tersebut merupakan fase “terendah” dan paling umum di pola pikir orang dewasa. Singkatnya, mereka masih memikirkan atau memedulikan apa yang orang lain bilang.

Seperti lebih ingin diterima atau diperhatikan oleh lingkungan sekitar, macam di kampus, tempat kerja, komunitas, dan sebagainya.
Tidak ingin dicap berbeda dan cenderung tidak berpikir kritis dalam menyikapi suatu hal. Contoh sederhananya, dari selera genre musik yang masih mengikuti orang-orang di circle-nya saja.

Kerangka berpikir yang lebih kritis dan analitis mulai ada di stage ke 4 dan 5. Cara kita menanggapi suatu hal atau isu yang sedang terjadi dengan lebih punya pendirian. Tidak serta merta ingin diterima orang-orang tertentu di sekitarnya.

Peran mahasiswa cukup penting dalam sejarah berkembangnya suatu negara. Misalnya seperti peristiwa era Orde Lama tahun 1965 untuk menurunkan Bung Karno dan desakan yang dilakukan saat peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang membuat Presiden Soeharto turun dari tahtanya setelah 32 tahun berkuasa di negeri Indonesia.

Hal serupa juga terjadi saat Bapak Jokowi selaku Presiden Indonesia ingin me-revisi UU KPK dan RKUHP pada tahun 2019 lalu yang dinilai tidak sesuai dengan amanat reformasi.
Pergolakan politik di tahun 2020 pun kian memanas karena ada wabah virus Covid-19 yang melanda dunia. Perekonomian pun hancur, terutama di Indonesia yang kian hari makin amburadul.

Lonjakkan manusia yang terpapar covid-19 di Indonesia terus meningkat yang mengakibatkan banyak negara di dunia menolak para WNI untuk berkunjung ke negara-negara luar. Ketidak becusan pemerintah dalam menangani pandemi ini membuat masyarakat semakin geram. Hingga sampailah pada puncaknya di minggu pertama bulan Oktober 2020 ini, amarah masyarakat (terutama buruh dan mahasiswa) mengenai keputusan RUU Cipta Kerja yang baru saja disahkan memicu banyak kontroversi.

Satu hal yang menurut saya hingga saat ini masih meresahkan dan merajalela adalah banyaknya berita hoax yang bertebaran. Apalagi di situasi “panas” seperti sekarang. Maka alangkah baiknya para mahasiswa milenial yang notabenenya adalah kaum intelek, harus lebih aware dalam menanggapi hal seperti ini.

Tahapan keempat dan kelima dari teori Robert Kegan di atas sangat penting untuk dimiliki dan diaplikasikan dalam kehidupan. Agar aspirasi yang ingin disampaikan dapat tertuang dengan baik tanpa adanya intervensi dari berita hoax yang ada di sekeliling kita.

Berpikir kritis sebelum bertindak, ambil masukkan dari siapapun yang memiliki kredibilitas serta kompeten di bidangnya. Agar keadaan negeri dan dunia yang semakin carut marut ini tidak semakin keruh ke depannya. #SaveOurWorld #SaveOurCountry

(***)