Beranda Sosial dan Budaya Peradaban Tiga Zaman di Kota Serang Terancam Hilang

Peradaban Tiga Zaman di Kota Serang Terancam Hilang

912
0
Suasana revitalisasi Banten Lama - foto istimewa Instagram

SERANG – Kota Serang sebagai ibukota Provinsi Banten memiliki peradaban tiga zaman berbeda, yakni era Kerajaan Hindu, Kesultanan Banten, dan era kolonial.

Masa Kerajaan Hindu yang merupakan bagian dari Kerajaan Padjadjaran dengan rajanya bernama Prabu Pucuk Umun lokasinya berada di Banten Girang, sekitar Sempu. Era Kesultanan Banten dengan Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten pertama membangun pusat kesultanannya di sekitar Muara Cibanten pesisir Teluk Banten yang sekarang selalu disebut Banten Lama. Dan zaman Kolonial Belanda, membangun pusat kotanya di antara Banten Girang dan Muara Cibanten, sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Serang.

Untuk zaman Kerajaan Hindu, tidak banyak artefak yang ditemukan atau memang belum digali secara optimal. Sedangkan peninggalan masa Kesultanan Banten, banyakartefak yang telah ditemukan meskipun masih banyak lagi yang harus digali, bahkan ada beberapa bangunan yang masih bisa dinikmati meskipun tidak utuh seperti Masjid Pecinan, Istana Surosowan, Masjid Agung Banten, Tasikardi, Pengindelan, Kanal, Jembatan Rante, Istana Kaibon dan lain-lain.

Peradaban zaman Kolonial Belanda, artefak yang baru diketemukan adalah gorong-gorong saluran air bawah tanah dari alun-alun, pasar lama sampai Cibanten. Sedangkan bangunan dan kawasan yang masih bisa dinikmati adalah alun-alun, eks Pendopo Keresidenan Banten, Perkantoran Kabupaten Serang, Mapolres Serang, Mapolresta Serang, Gereja, rumah dinas dan lain-lain.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Banten, Muqoddas Syuhada menyatakan bahwa selama ini pemerintah kurang peduli dengan peninggalan tiga masa tersebut. Kerinduan akan bangkitnya kembali kejayaan era Kesultanan Banten begitu besar, salah satunya adalah keinginan untuk merevitalisasi Kawasan Kesultanan Banten yang biasa disebut Banten Lama. Dan harapan itu datang pada saat WH dan Andika terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Banten.

“Namun sayang, niat baik merevitalisasi Banten Lama itu tidak disertai dengan Pedoman Revitalisasi Kawasan Cagar Budaya. Puluhan bahkan ratusan miliar dana yang digelontorkan tahap pertama hanyalah menghasilkan penataan yang menghilangkan makna revitalisasi,” ujarnya, Kamis (27/9/2018).

Begitu pun dengan Alun-Alun Kota Serang. Di akhir masa jabatan sebagai Walikota Serang, Tubagus Haerul Jaman melakukan seremoni peletakkan batu pertama Pembangunan Masjid Agung Kota Serang di Alun-Alun Barat. Jika ini benar-benar terjadi, maka akan dipastikan Kota Serang menghilangkan makna sebagai Kota Madani atau kota yang beradab.

“Cukup sudah bangunan Makodim yang menjadi supermarket, saya dan tentunya masyarakat yang tergabung dalam Forum Peduli Kota Serang (FPKS) tidak ingin jejak-jejak sejarah peradaban di Kota Serang ini dihilangkan atas nama pembangunan, janji-Janji dan program kerja,” ujarnya.

Khusus untuk Revitalisasi Banten Lama, ia berpendapat bahwa rancangan Revitalisasi Banten Lama ini salah secara substansi, lepas dari kontroversi pelanggaran proses pelaksanaan konstruksinya. Menurutnya, pembangunan di Banten Lama yang dilakukan oleh Pemkot Serang dan Pemprov Banten bukan revitalisasi, karena menghilangkan susunan dan struktur ruang serta mengubah karakter Kawasan Kesultanan Banten Abad 16 yang justru merupakan keunikan Banten Lama dan warisan yang sangat berharga dan tak tergantikan. “Hal inilah yang merupakan kesalahan mendasar konsep pembangunan Banten Lama,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari progres pembangunan yang sedang berjalan itu, alih fungsi sawah menjadi terminal, betonisasi kanal, perkerasan Alun-Alun Banten dengan material marmer/granit dan pemasangan payung-payung seperti di Masjid Nabawi sangat a-historis dan merusak karakter Masjid Agung Banten. Menurtutnya, hal itu tidak seharusnya ada di Banten Lama yang merupakan peninggalan terlengkap tata kota Masa Kesultanan Banten abad 16. “Itu seperti taman-taman modern yang bisa dibangun di mana saja tapi tidak di Banten Lama. Bentuk-bentuk itu mengaburkan pengetahuan generasi yang akan datang tentang tata kota masa itu yang hanya bisa dilihat di Banten Lama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa secara pribadi dan FPKS mendukung rencana pembangunan Masjid Agung Kota Serang, tapi lokasinya bukan di tengah Alun-Alun Barat Kota Serang. “Kami pun sangat setuju dengan ide merevitalisasi kawasan Banten Lama, tetapi tidak dengan mengubah susunan dan struktur ruang yang langka, bernilai dan tak tergantikan. Masih banyak cara untuk menghidupkannya kembali sambil tetap memelihara keasliannya,” ungkapnya. (ink/red)