
SERANG– Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mulai khawatir pada persoalan regenerasi petani. Mayoritas petani di daerah ini kini berada pada kelompok usia lanjut, sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian masih rendah.
Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir mengatakan rata-rata usia petani di Banten saat ini sudah berada di atas 50 tahun. Kondisi tersebut dinilai dapat mengancam keberlanjutan produksi pangan apabila tidak segera diantisipasi.
“Usia rata-rata petani di Banten sekarang mungkin 90 persen itu rata-rata di atas lima puluh tahun,” kata Nasir, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, presentase tersebut menjadi sinyal yang mengkhawatirkan bagi masa depan pertanian Banten. Menurut Nasir, dominasi petani berusia tua memang menjadi persoalan yang harus segera diatasi.
“Ya khawatir lah. Walau katakanlah bukan 90 persen, anggap aja 60 dan 70 persen, ini kan khawatir kita siapa yang melanjutkan lahan produksi kita untuk kita bisa mendapatkan hasil untuk pangan kita,” ujarnya.
Nasir mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah program untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian. Salah satunya dengan melibatkan anak-anak muda dalam pengelolaan usaha tani dan memperkenalkan model pertanian modern yang lebih dekat dengan teknologi.
Menurut dia, selama ini profesi petani masih dipandang identik dengan pekerjaan yang kotor, berat, dan tidak menjanjikan masa depan. Persepsi tersebut membuat banyak anak muda enggan menekuni bidang pertanian.
“Itu tadi kan dekat dengan kumuh, kotor, jorok. Tidak punya masa depan seolah-olah kan masa depan suram,” kata Nasir.
Padahal, kata dia, sektor pertanian memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara profesional dan berbasis teknologi. Bahkan lahan yang relatif sempit dapat menghasilkan pendapatan di atas upah minimum jika ditanami komoditas bernilai tinggi dengan manajemen yang tepat.
Untuk mengubah persepsi tersebut, Dinas Pertanian Banten mengembangkan berbagai program regenerasi. Pemerintah membentuk kelompok Petani Muda Milenial, menunjuk duta pertanian atau agriculture ambassador, serta membangun kelembagaan baru bernama Brigade Pangan.
Melalui program Brigade Pangan, pengelolaan kawasan pertanian dilakukan oleh kalangan muda, termasuk sarjana pertanian. Mereka diberi tanggung jawab mengelola hamparan lahan hingga 150 hektare dengan dukungan sarana produksi dan alat mesin pertanian dari pemerintah.
“Kita buat kelembagaan baru berupa brigade pangan itu ada manajemen pengelolaannya sarjana anak muda yang mengelola hamparan 150 hektare, di-support dari hulu ke hilir, alat-alat mesinnya semua disupport,” ujar Nasir.
Selain itu, pemerintah juga mulai mendorong penerapan pertanian modern berbasis teknologi atau smart farming. Konsep ini memungkinkan petani mengendalikan kebutuhan tanaman secara lebih presisi melalui sistem digital, mulai dari pengaturan pemupukan hingga suhu lingkungan.
Nasir mencontohkan pembangunan fasilitas smart screenhouse yang memungkinkan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi meski dilakukan di lahan terbatas. Sistem tersebut memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengendalikan berbagai kebutuhan tanaman.
Pemprov Banten juga telah mengirimkan puluhan pemuda Banten untuk mengikuti program magang pertanian di Jepang pada April lalu. Sebanyak 21 peserta diberangkatkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan teknologi pertanian modern sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pangan.
Menurut Nasir, peserta magang yang kembali ke Indonesia diharapkan menerapkan teknologi dan metode budidaya yang mereka pelajari selama berada di Jepang. Pemerintah bahkan berupaya memastikan mereka tetap berkecimpung di sektor pertanian setelah pulang.
“Begitu pulang mereka bisa mereplikasi apa yang mereka lakukan di sana mereka terapkan sehingga pertanian Banten ini bisa membaik regenerasinya,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan regenerasi petani tidak cukup hanya dengan pelatihan. Pemerintah juga perlu menyediakan fasilitas dan teknologi yang memadai agar anak-anak muda tidak kembali ke pola pertanian tradisional yang dianggap kurang menarik.
“Begitu pulang ke sini, kan enggak nyangkul lagi juga. Makanya harus difasilitasi alat-alat berbasis modern,” kata Nasir.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi