Beranda Pemerintahan Pemprov Banten Kaji Penerapan Tarif Bus Trans Banten

Pemprov Banten Kaji Penerapan Tarif Bus Trans Banten

Ilustrasi

SERANG– Pemerintah Provinsi Banten mengkaji penerapan tarif untuk layanan bus Trans Banten yang selama ini diberikan secara gratis. Penerapan tarif masih menunggu penyelesaian revisi Peraturan Daerah (Perda) terkait pendapatan daerah dan penerbitan Peraturan Gubernur (Pergub).

Kepala Bidang Angkutan dan Pengembangan Transportasi Dinas Perhubungan Banten Verry Junanta mengatakan pemerintah daerah masih menyiapkan dasar hukum untuk penerapan tarif tersebut.

“Kita sedang menunggu dasar penerapan tarifnya,” katanya, Selasa, (18/8/2026).

Menurut Verry, revisi perda tersebut tengah diproses oleh Badan Pendapatan Daerah Banten. Setelah perda selesai, pemerintah akan menyiapkan pergub sebagai aturan pelaksana penerapan tarif.

Pemprov Banten menargetkan penerapan tarif dapat dilakukan tahun ini. Pendapatan dari layanan tersebut nantinya masuk sebagai Pendapatan Asli Daerah.

“Tahun ini insya Allah perdanya berikut dengan pergubnya selesai, dan kita bisa langsung menerapkan tarif ini,” ujarnya.

Besaran tarif yang sedang diusulkan berada pada kisaran Rp3.000 hingga Rp5.000. Tarif tersebut direncanakan berlaku bagi penumpang umum maupun pelajar.

Dalam skema yang disiapkan, pembayaran dilakukan secara nontunai. Armada Trans Banten telah dilengkapi perangkat untuk transaksi elektronik.

“Jadi nanti penumpang wajib menggunakan kartu uang elektronik lewat pemindaian kode QRIS. Seluruh hasil pemungutan tarif ini tentunya akan langsung disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Pemprov Banten,” ungkapnya.

Selain pendapatan dari tiket, pemerintah juga menyiapkan sumber pendapatan dari layanan non-tiket. Skemanya antara lain berupa pemasangan iklan pada bus dan halte serta penyewaan ruang komersial di halte utama.

“Pendapatan di layanan Trans Banten ini ada, pertama tiket, kedua non tiket. Nah satu kita bisa pasang reklame di dan bus baik di dalam maupun diluar, kedua iklan di halte, ketiga kalau sudah ada halte khusus untuk trans Banten nanti di dalamnya ada komersial area yang disewakan,” tuturnya.

Baca Juga :  Amankan Nataru, Dishub Banten Siapkan 18 Titik Pos

Sejak diluncurkan pada Oktober 2025 hingga Juli 2026, Trans Banten telah melayani sekitar 188 ribu penumpang. Selama periode tersebut, layanan masih diberikan tanpa tarif.

“Alhamdulillah layanan bus gratis ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat,” katanya.

Verry mengatakan layanan Trans Banten hingga kini belum mengalami kecelakaan. Ia menyebut kondisi tersebut menjadi bagian dari evaluasi layanan yang mengutamakan aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang.

“Alhamdulillah kita masih Zero accident tidak terjadi kecelakaan jadi amanlah, dan kondisi nyaman juga di dalam bus,” ujarnya.

Jumlah armada Trans Banten juga mengalami penyesuaian sejak masa uji coba pada awal 2025. Pada tahap awal, layanan hanya menggunakan dua bus berukuran sedang. Pengguna dari kalangan mahasiswa, termasuk dari Untirta, UIN, dan Unbaja, disebut turut meningkatkan jumlah penumpang pada sejumlah waktu tertentu.

Pengelola kemudian mengoperasikan empat bus besar dengan kapasitas sekitar 80 penumpang untuk mengantisipasi kepadatan pada jam kerja dan perkuliahan.

Pada hari kerja, Senin hingga Jumat, empat bus dioperasikan dengan interval keberangkatan sekitar 30 menit. Sedangkan pada akhir pekan, dua bus beroperasi dengan interval sekitar satu jam.

Pengaturan jumlah armada tersebut disesuaikan dengan tingkat permintaan penumpang dan pertimbangan efisiensi operasional.

“Tapi ketika nanti Sabtu-Minggu sudah ramai kita akan tambah lagi, karena kalau empat mobil di akhir pekan tapi penumpangnya sedikit kan sayang uang negara terbuang sia-sia tidak efisien, makanya sesuai kebutuhan kita siapkan,” ujarnya.

Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi