SERANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang mulai menyiapkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program nasional tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi lokal.
Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, mengatakan Pemkot Serang mendorong agar dapur MBG di daerahnya memprioritaskan penggunaan bahan baku dari pelaku usaha lokal, mulai dari petani, peternak hingga UMKM.
Hal itu disampaikan Agis saat mengunjungi Klinik UMKM di Kantor Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Dinkopukmperindag) Kota Serang, Rabu (11/3/2026).
Menurut Agis, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari amanat Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 yang mengatur pelaksanaan program MBG.
“Kita menindaklanjuti saran dari BGN terkait Perpres 115 Tahun 2025. Seluruh dapur MBG di Kota Serang wajib mengakomodir suplai dari petani, peternak, dan pelaku UMKM,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemkot Serang akan memfasilitasi para pelaku UMKM agar bisa menjadi bagian dari rantai pasok program tersebut. Dengan demikian, manfaat program MBG tidak hanya dirasakan oleh para penerima program, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Agis menyebutkan, di Kota Serang direncanakan akan beroperasi sekitar 90 dapur MBG. Jika seluruhnya berjalan optimal, potensi perputaran ekonomi diperkirakan mencapai hampir Rp100 miliar per bulan atau sekitar Rp1,2 triliun per tahun.
“Ini potensi besar yang harus kita optimalkan. Karena itu UMKM harus disiapkan dan difasilitasi agar bisa terlibat,” katanya.
Pemkot Serang juga akan melakukan pengawasan terhadap operasional dapur MBG. Jika ditemukan dapur yang belum menyerap produk lokal, pemerintah daerah akan melaporkannya untuk ditindaklanjuti.
Sementara itu, Kepala Dinkopukmperindag Kota Serang, Wahyu Nurjamil, mengatakan pihaknya masih melakukan validasi data UMKM di Kota Serang yang jumlahnya mencapai sekitar 12 ribu pelaku usaha.
Menurut Wahyu, UMKM mikro dan ultra mikro sangat dinamis sehingga pendataan harus terus diperbarui.
“UMKM mikro dan ultra mikro ini sangat dinamis, sehingga datanya terus kita perbarui dan validasi. Tahun ini juga kita akan melakukan pendataan ulang,” ujarnya.
Dari data sementara, sudah ada sekitar 20 UMKM yang tercatat menjadi pemasok bahan maupun produk untuk program MBG, seperti kue tradisional, roti, sayuran, hingga keripik tempe.
Ia menilai kemampuan UMKM untuk menyuplai kebutuhan MBG cukup memungkinkan karena setiap pelaku usaha tidak harus memasok dalam jumlah besar secara terus-menerus.
“Dalam satu bulan mungkin satu UMKM hanya menyuplai satu atau dua hari saja, karena menunya juga berganti-ganti. Jadi peluangnya bisa terbuka untuk banyak UMKM,” jelasnya.
Ke depan, Dinkopukmperindag akan berkoordinasi dengan pendamping kecamatan serta pengelola dapur MBG untuk menyusun rantai pasok sekaligus menentukan standar kualitas bahan baku.
“Yang penting standarisasinya jelas. Dengan begitu UMKM lokal bisa terlibat dan perputaran ekonomi tetap berada di Kota Serang,” pungkasnya.
Penulis: Ade Faturohman
Editor: Usman Temposo
