SERANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang segera membentuk Tim Koordinasi Daerah (Tikorda) untuk memperkuat pencegahan dan pengendalian penyakit zoonosis serta penyakit infeksi menular baru antara manusia dan hewan.
Langkah ini menjadi upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dan berbagai pemangku kepentingan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Serang, Nanang Saefudin mengatakan, pembentukan Tikorda merupakan tindak lanjut hasil pertemuan lintas sektor yang membahas strategi menghadapi penyakit menular yang dapat berpindah dari hewan ke manusia maupun sebaliknya.
“Pertemuan lintas sektor ini dalam rangka penguatan pencegahan dan pengendalian zoonosis dan penyakit infeksi baru. Penyakit zoonosis adalah penyakit menular yang penyebarannya bisa dari hewan ke manusia atau sebaliknya,” kata Nanang, Rabu (22/7/2026).
Nanang menjelaskan, pemerintah mengambil pelajaran dari pandemi Covid-19 agar memiliki sistem deteksi dini dan penanganan yang lebih terintegrasi. Sesuai regulasi, Sekda akan memimpin Tikorda yang bertugas mengoordinasikan seluruh OPD terkait.
Sebanyak 15 OPD akan bergabung dalam tim tersebut, di antaranya Baperida, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Peternakan, BPBD, Dinas Komunikasi dan Informatika, para camat, Badan Pusat Statistik (BPS), Balai Karantina, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Menurut Nanang, keterlibatan lintas sektor penting untuk mempercepat pelaporan dan penanganan apabila muncul gejala penyakit menular baru.
“Nanti secara teknis Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian yang menangani. Tetapi harus ada kolaborasi semua pihak. Camat, lurah, kader kesehatan hingga masyarakat dapat melaporkan apabila menemukan gejala yang berbeda sehingga bisa segera ditangani,” ujarnya.
Ia menegaskan, wabah penyakit tidak hanya mengancam sektor kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, Pemkot Serang memilih memperkuat kesiapsiagaan sejak dini.
Nanang juga menilai peran MUI penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk terkait keamanan dan kehalalan vaksin apabila dibutuhkan dalam penanganan wabah.
“Kita belajar dari pengalaman sebelumnya. Masyarakat yang tidak mau divaksin tidak pernah dipaksa, tetapi perlu diberikan edukasi oleh tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, maupun MUI agar tidak muncul keraguan,” katanya.
Kepala Baperida Kota Serang, Hari Pamungkas mengatakan, pembentukan Tikorda merupakan tindak lanjut program yang diinisiasi Kedutaan Besar Amerika Serikat bersama Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kesehatan.
Menurut Hari, tim akan menerapkan konsep One Health, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Konsepnya adalah satu kesehatan atau One Health. Karena itu sekitar 15 OPD akan terlibat sesuai tugas masing-masing untuk mengantisipasi penyakit zoonosis maupun infeksi baru,” jelasnya.
Hari menegaskan, pemerintah memilih memperkuat pencegahan dibanding menangani wabah setelah menyebar. Strategi mitigasi dini dinilai lebih efektif sekaligus mampu menghemat anggaran.
Ia menambahkan, hasil pemetaan menunjukkan risiko penyakit zoonosis di Kota Serang masih tergolong rendah. Meski demikian, pemerintah tetap memberi perhatian khusus pada wilayah yang memiliki aktivitas perdagangan unggas.
“Status Kota Serang secara umum masih rendah. Yang perlu diwaspadai berada pada kategori sedang, terutama di wilayah yang memiliki aktivitas perdagangan unggas. Karena itu kami memperkuat upaya pencegahan dan mitigasi sejak sekarang,” ujarnya.
Hari memastikan jumlah kasus zoonosis di Kota Serang masih relatif minim. Namun, Pemkot Serang tetap memperkuat sistem antisipasi agar potensi penyebaran penyakit dan risiko kematian dapat ditekan sedini mungkin.
Penulis : Rasyid
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
