Beranda Teknologi Pemahaman Mengenai Digital Bubble Anak Penting

Pemahaman Mengenai Digital Bubble Anak Penting

Pertemuan rutin dengan tema “Memahami Digital Bubble Anak” secara hybrid di Gedung Nyimas Melati, pada Jumat (16/9/2022) - Foto istimewa

TANGERANG – Guna mencegah pola pikir pada anak dari dampak pengaruh internet, Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Tangerang, melalui Pokja II menggelar pertemuan rutin dengan tema “Memahami Digital Bubble Anak” secara hybrid di Gedung Nyimas Melati, pada Jumat (16/9/2022).

Ketua TP PKK Kota Tangerang, Aini R Wismansyah menjelaskan bahwa tema ini diambil karena untuk memberi pemahaman istilah yang baru didengar atau tidak familiar yaitu digital bubble kepada peranan penting untuk anak yaitu orangtua, khususnya para ibu. Bahwa digital bubble merupakan sesuatu yang berdampak bagi tumbuh kembang anak, melalui pola pikir.

“Digital bubble merupakan pikiran-pikiran yang terbentuk dari internet. Istilah ini jarang sekali didengar oleh para orang tua, namun ini harus difokuskan karena bagaimanapun sebagai orang tua harus mengikuti jamannya para anak namun juga harus dapat mengawasi. Agar anak mendapatkan pola pikir yang baik sesuai dengan norma-norma yang ada,” jelas Aini R Wismansyah dalam keterangannya.

Sementara itu, pada pertemuan ini menghadirkan narasumber yang ahli pada bidangnya, yaitu Herman Josis. Memaparkan kiat-kiat yang harus dilakukan oleh para orang tua yang khususnya banyak dari generasi X, untuk memahami digital bubble pada anak. Karena pada generasi X ini sangat berbeda dengan generasi Z dari teknologi digital informasi yang didapatkan.

“Mulai dari memperhatikan kesenangan anak, seperti melihat screen time handphone mereka, dengan begitu kita bisa mengetahui banyak waktu yang dihabiskan oleh anak, seperti contoh games, sosial media, dan tontonan yang dilihat. Semua itu harus kita awasi agar semua sesuai dengan umurnya,” jelas Herman Josis.

Herman Josis melanjutkan bahwa Digital Bubble ini sangat berdampak untuk tumbuh kembang anak, jika terus membiarkan anak dengan informasi yang mereka dapatkan dari internet tanpa ada pengawasan atau kolaborasi dengan orangtua.

“Dengan semua pemaparan yang saya berikan, saya berharap para orangtua bisa membuat sistem penyaringan atau pertahanan pada anak. Dengan memberitahu kepada anak bahwa informasi mana saja yang harus diambil atau dimanfaatkan , mana yang salah dan benar serta informasi mana saja yang harus dilupakan,” tutup Herman Josis.

(Ril/Red)