SERANG – Pelaku usaha clothing sekaligus rider BMX, Heru Anwari, mengkritik penyelenggaraan Kota Serang Fair 2026. Ia menilai kegiatan tahun ini tidak lagi memberikan ruang yang cukup bagi pelaku industri kreatif, khususnya bagi komunitas anak muda.
Heru mengatakan selama tiga tahun berturut-turut ia mengikuti perayaan Kota Serang Fair. Menurut dia, penyelenggaraan pada 2024 dan 2025 berhasil mengubah citra kegiatan tersebut setelah melibatkan lebih banyak pelaku clothing dan anak muda.
“Namun berbeda tahun ini, penyelenggara hanya menjanjikan namun tidak fair. Dan saya sangat menyayangkan,” kata Heru, Sabtu (8/8/2026).
Heru mengatakan sekitar satu bulan sebelum pelaksanaan Kota Serang Fair 2026, penyelenggara menawarkan lima tenant kepada pelaku industri clothing. Ia menyebut sejumlah pelaku usaha kemudian masuk dalam daftar tenant dan mulai menyiapkan produk untuk kegiatan tersebut.
Namun, kata dia, rencana tersebut dibatalkan tanpa penjelasan yang jelas. Padahal, para pelaku usaha telah mempersiapkan produk untuk dipasarkan dalam kegiatan yang menjadi bagian dari perayaan hari ulang tahun Kota Serang itu.
“Kita semua beranggapan itu sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun dengan alasan yang tidak jelas, kita di-cut tanpa ada penyelesaian. Sementara kita sudah mempersiapkan beberapa hal, di antaranya produk untuk meramaikan Kota Serang Fair tahun ini,” ujarnya.
Heru menyebut konfirmasi mengenai tenant sebelumnya dilakukan melalui grup WhatsApp dan sambungan telepon. Lima nama yang disebut telah masuk dalam daftar tersebut yakni Banten Culture, ZTFF, Despelwijk, Octopus Snapiu, dan Doir Warehouse.
Menurut Heru, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kepentingan pelaku usaha clothing. Ia menilai pemerintah semestinya menjadikan perayaan hari jadi kota sebagai ruang yang dapat dinikmati dan dimanfaatkan berbagai kelompok masyarakat.
Heru mengatakan pengalaman mengikuti berbagai kegiatan di tingkat nasional dan internasional membuatnya melihat pentingnya pelibatan komunitas lokal dalam sebuah event pemerintah. Ia menilai Kota Serang Fair sebelumnya mulai berhasil menarik perhatian anak muda dengan menghadirkan musisi yang digandrungi generasi Z sekaligus melibatkan anak muda sebagai penyelenggara dan tenant.
“Sayangnya, potensi besar yang dibiayai anggaran daerah tersebut dinilai meleset dari sasaran. Pemerintah dan penyelenggara terkesan tidak paham cara memanfaatkan momentum dengan gagal memberikan ruang seluas-luasnya bagi pelaku ekraf, pengrajin khas, kuliner lokal, hingga industri clothing,” kata Heru.
Ia menilai industri clothing memiliki peran penting dalam mendekatkan generasi Z dengan daerahnya. Produk lokal, kata dia, dapat menjadi medium untuk memperkenalkan identitas Kota Serang dengan pendekatan yang lebih modern dan sesuai dengan karakter anak muda.
Heru juga mengaku kesulitan meminta penjelasan kepada panitia mengenai pembatalan tenant tersebut. Ia mengatakan telah dua kali mendatangi panitia, mengirim pesan, dan menelepon, tetapi tidak memperoleh respons.
“Panitia susah ditemui. Saya dua kali datang, text dan call tidak direspons. Sejatinya saya kira yang membutuhkan adalah pemerintah sendiri. Melihat potensi putra daerah menciptakan produk, harusnya bisa didorong dan dimanfaatkan untuk memotivasi generasi mendatang atau mendorong ekonomi lokal,” ujarnya.
Heru mengatakan tidak mengetahui alasan pasti perubahan konsep penyelenggaraan Kota Serang Fair tahun ini. Namun, berdasarkan kunjungannya pada hari pertama kegiatan, ia menilai konsepnya berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, termasuk ketika Kota Serang Fair digelar di Stadion Maulana Yusuf pada 2025.
“Saya tidak tahu pasti ada hal apa. Namun kunjungan hari pertama saya ke Kota Serang Fair sangat berbeda dengan konsep Kota Serang Fair yang pertama di Stadion Maulana Yusuf 2025. Saya harap kita semua bisa peduli dan membangun menumbuhkan Kota Serang lebih baik,” kata dia.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi
