Beranda Pemerintahan Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau, DLH Lebak Pasang Alat Pengukur Udara

Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau, DLH Lebak Pasang Alat Pengukur Udara

Alat pengukur udara yang terpasang di depan Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak, Banten. (Sandi/Bantennews.co.id)

LEBAK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak memasang alat pengambilan sampel kualitas udara selama 24 jam untuk memantau dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Pemasangan alat tersebut bertujuan memperoleh data aktual mengenai kondisi udara, khususnya konsentrasi partikulat yang berpotensi meningkat akibat sebaran abu vulkanik.

Kepala DLH Kabupaten Lebak Irvan Suryatupika mengatakan, pengambilan sampel selama 24 jam dilakukan untuk mendapatkan gambaran kualitas udara secara menyeluruh.

“Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui secara lebih representatif dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap kualitas udara di Kabupaten Lebak,” kata Irvan saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, pemantauan kualitas udara menjadi bagian penting dari upaya Pemerintah Kabupaten Lebak memastikan kondisi udara berdasarkan hasil pengukuran langsung.

“Melalui pemantauan ini, kami ingin mendapatkan data aktual mengenai konsentrasi partikulat di udara, termasuk mengetahui apakah terjadi peningkatan akibat sebaran abu vulkanik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, DLH akan menganalisis sampel udara yang telah dikumpulkan untuk mengetahui tingkat paparan partikulat dan kondisi kualitas udara di lokasi pemantauan.

“Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan baku mutu udara yang berlaku. Dengan demikian, kami memiliki dasar data yang objektif untuk menilai kondisi udara di wilayah yang terdampak abu vulkanik,” ungkapnya.

Irvan menambahkan, hasil pemantauan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan teknis bagi DLH Kabupaten Lebak dalam menyusun rekomendasi kepada pemerintah daerah.

“Rekomendasi terutama berkaitan dengan langkah perlindungan masyarakat apabila hasil pengukuran menunjukkan peningkatan konsentrasi partikulat yang berpotensi mengganggu kualitas udara,” ucapnya.

Penulis: Sandi Sudrajat

Editor: Wahyudin