Beranda Kesehatan PAPDI dan RS Bhayangakara Polda Banten Berikan Pengobatan Gratis untuk Korban Banjir...

PAPDI dan RS Bhayangakara Polda Banten Berikan Pengobatan Gratis untuk Korban Banjir Bandang Lebak

322
0
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Banten dr. Edison Y.P Saragih (tengah) didampingi Ketua Pelaksana Pengobatan Gratis dr. Irfan Maulani dan dr. Eko Yunianto dari Bidokkes Polda Banten. (Wahyu/bantennews)

 

SERANG – Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Banten bersama Rumah Sakit Bhayangkara Polda Banten menggelar pengobatan gratis korban bencana banjir bandang Lebak, Banten.

Ketua Pelaksana dari PAPDI Banten dr. Irfan Maulani mengatakan, mayoritas pasien yang ditangani mengeluhkan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), badan pegel-pegel hingga diare. Meski demikian pihaknya tetap menyiagakan ambulan untuk penanganan medis gawat darurat.

“Kegiatan rutin setiap setelah bencana. Setiap bencana turun alhamdulillah kita bisa baksok. Kita tim dokter 12 orang, 13 orang perawat. Ketersediaan obat insyaallah bisa mengcover 200 pasien,” katanya di Desa Banjaririgasi, Kecamatan lebak Gedong, Lebak, Sabtu (18/1/2020).

Ketua PAPDI Cabang Banten dr. Edison Y.P Saragih mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dokter kepada masyarakat, khususnya yang tengah tertimpa musibah. Kegiatan yang sama sering kali dilakukan kepada masyarakat.

“Saat tsunami tahun lalu juga kami menggelar kegiatan serupa. Tujuannya untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah,” kata dia.

Selain memberikan bantuan pengobatan gratis, PAPDI juga memberikan bantuan berupa seragam sekolah untuk siswa. Sebanyak 36 seragam SD diberikan secara simbolis kepada perwakilan siswa.

Dr. Eko Yunianto, Kepala RS Bhayangkara Polda Banten mengatakan, berdasarkan pemeriksaan dan penanganan dari psikiater. Korban banjir yang rusak rumahnya mengalami gangguan psikis yang berimbas susah tidur.

Selain itu, korban banjir kerap cemas akibat memikirkan nasib mereka. Mereka cemas karena memikirkan rumah tinggal.

“Dari temen-temen spisikiater menanagani (korban banjir) warga yang susah tidur karena memang mereka memikirkan pasca banjir mereka mau kemana,” kata Eko.

Untuk mengobati para korban banjir yang mulai terkena gangguan psikis akibat trauma menurutnya, pemerintah segera memberi kepastian untuk tempat tinggal sementara para korban banjir. Hingga saat ini ribuan korban masih mengungsi disetiap posko pengungsian. “Harapannya pemerintah bisa membantu dan turun tangan soal masalah itu,” katanya.

(You/Red)