KAB. TANGERANG – Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 7,3 persen atau sekitar 15.139 anak di Kabupaten Tangerang mengalami stunting. Kasus terbanyak berasal dari wilayah Pantura dan pesisir.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, menyebut wilayah Pantura dan pesisir menjadi penyumbang kasus stunting tertinggi. Tingginya angka kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan di daerah tersebut menjadi faktor utama.
“Yang terbanyak itu memang di daerah Pantura, karena kemiskinannya tinggi dan pendidikannya rendah,” kata Hendra, Minggu (21/9/2025).
Angka tersebut didapat berdasarkan hasil Gerebek Posyandu pada bulan Juni lalu. Meski begitu, Hendra menyatakan angka stunting di Kabupaten Tangerang sudah menurun, bahkan lebih rendah dari target nasional sebesar 14 persen.
“Bulan Juni kemarin kita ada Gerebek Posyandu, stunting kita sudah 7,3 persen. Jadi sudah di bawah target nasional 14 persen,” ungkapnya.
Hendra menjelaskan, Dinas Kesehatan melakukan intervensi dengan memberikan pangan khusus medis khusus (PKMK). Jika kondisi anak membaik, penanganan dilanjutkan oleh OPD lain seperti Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) melalui pemberian makanan tambahan.
Penanganan berikutnya, jika keluarga tidak memiliki jamban, Dinas Perumahan, Permukiman dan Pemakaman (DPPP) akan membangunkan jamban. Jika rumah tidak layak huni, Perkim akan membangunkan rumah layak huni. Menurut Hendra, kondisi lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap kasus stunting.
“Karena jamban juga mempengaruhi stunting,” tandasnya.
Penulis: Saepulloh
Editor : Usman Temposo
