Film animasi Panji Tengkorak akhirnya resmi tayang di bioskop Indonesia. Adaptasi dari komik legendaris karya Hans Jaladara ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan animasi tanah air: nuansa gelap, pertarungan brutal, serta kisah tragis penuh dilema moral.
Visual 2D Gelap yang Bikin Merinding
Diproduksi selama lebih dari tiga tahun dengan melibatkan sekitar 250 animator, Panji Tengkorak tampil dengan gaya animasi 2D yang jarang diusung film Indonesia. Adegan laga silat divisualisasikan dengan detail artistik ala panel komik, lengkap dengan efek gore: darah muncrat, tubuh terpotong, hingga wajah setengah tengkorak sang tokoh utama. Semua ini membuat film terasa intens dan jauh dari kesan kartun “imut”.
Adaptasi Setia pada Komik Legendaris
Meski hadir dengan sentuhan modern, film tetap setia pada DNA komik orisinal. Kehadiran Hans Jaladara dalam proses produksi memperkuat nuansa otentik. Cerita Panji yang tragis—terjebak dendam, kehilangan, sekaligus perjalanan mencari jati diri—dibungkus dengan kedalaman emosional yang jarang ditemui di animasi lokal.
Didukung Pengisi Suara Ternama
Nama-nama besar seperti Denny Sumargo, Donny Damara, Aghniny Haque, hingga Cok Simbara turut memperkuat karakter lewat pengisian suara. Karakter Panji sendiri terasa hidup dengan suara berat dan emosional, menggambarkan luka batin sang pendekar tengkorak.
Tidak Sepenuhnya Sempurna
Namun, film ini tidak luput dari kekurangan. Penempatan musik, termasuk lagu “Bunga Terakhir” yang dinyanyikan ulang oleh Iwan Fals dan Isyana Sarasvati, terasa kurang pas saat dimunculkan di tengah adegan klimaks. Scoring di beberapa bagian juga terdengar terlalu padat sehingga mengurangi kesan dramatis.
Selain itu, dengan rating 13+, visual gore dan nuansa kelam membuat Panji Tengkorak jelas bukan tontonan untuk semua kalangan, terutama anak-anak.
Layak Ditonton, Tapi Siapkan Mental
Meski punya kelemahan, Panji Tengkorak tetap menjadi tonggak penting bagi perkembangan animasi Indonesia. Ia menunjukkan bahwa karya lokal bisa tampil berani, artistik, sekaligus mengangkat warisan budaya pop lama untuk generasi baru.
Bagi penonton yang menyukai animasi penuh aksi, gelap, dan emosional, film ini wajib masuk daftar tonton. Tapi bagi mereka yang mencari tontonan ringan bersama keluarga, sebaiknya pikir dua kali sebelum membeli tiket.
Tim Redaksi