Beranda Kesehatan Pandemi Covid-19 Belum Usai, 3 Warga Puri Bintaro Indah Tangsel Terjangkit DBD

Pandemi Covid-19 Belum Usai, 3 Warga Puri Bintaro Indah Tangsel Terjangkit DBD

767
0
Ilustrasi - foto istimewa merdeka.com

TANGSEL – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini menjadi daerah di Provinsi Banten yang satu-satunya masih dalam kondisi menghawatirkan atas penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Bahkan, beberapa hari belakangan, Kota kecil tersebut masuk kembali ke dalam zona merah.

Namun, belum selesai mengatasi virus Corona tersebut, kini Tangsel dihadapkan dengan masalah baru, yaitu virus yang dibawa oleh nyamuk Demam Berdarah Dangue (DBD).

Seperti diketahui, virus DBD akan merebak pada saat musim hujan datang seperti sekarang, dimana mediator nyamuk akan hidup di genangan-genangan bekas air hujan.



Kasus DBD tersebut kini tengah menjangkit 3 warga Puri Bintaro, Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel.

Hal itu diungkapkan Ketua RW 02, Kelurahan Jombang, Ciputat, Hepi Bayu Amadi. Menurut dia, ketiga korban tersebut ada di RT 2 dan 3 yang rumahnya berdekatan namun beda blok.

“Saat ini sudah satu orang yang di RT 2 sudah pulang. Sementara yang dua lagi masih dirawat di Rumah Sakit IMC Bintaro belum sembuh,” ungkap Hepi saat dikonfirmasi via telpon, Senin (26/10/2020).

Dilanjutkan Hepi, ketiganya masih anak-anak. Yang pertama atas nama Daniel usia 12 tahun. Namun yang dua lagi dia mengaku lupa. Namun umurnya sekitar 12 dan 16 tahun.

Hepi menduga, ketiganya terkena DBD di lingkungan rumahnya. Karena, kata dia, di masa pandemi ini sekolahnya di rumah masing-masing. Oleh karenanya, jika terkena di sekolah tidak mungkin.

“Kan Ini masa pandemi seperti ini tak pernah kemana-mana, sekolah juga nggak. Mulai ketemu musim penghujan ini kami was-was terhadap DBD ini. Ditambah Corona juga belum kelar-kelar kan,” keluh Hepi.

Hepi pun berharap pemerintah melakukan upaya fogging untuk membunuh nyamuk DBD. Sementara untuk saat ini, lanjutnya, upaya fogging dilakukan oleh warga sekitar dengan iuran untuk beli obat dan sewa mesinnya.

“Kebetulan kita belum lapor ke pihak Puskesmas karena Puskesmas juga konsentrasinya lagi ke Covid-19, jadi Kemarin warga patungan untuk beli obat dan sewa mesinnya. Lumayan sih hampir Rp500.000 per RT,” ujarnya.

“Harapan ke Pemerintah ya mohon perhatiannya untuk kita kan lingkungan banjir rawan musibah. Kita mohon perhatian khusus untuk kita. Warga kita di sini hampir 450 KK, kalau ditotal ada 1.500 orang,” katanya.

(Ihy/Red)