Beranda Bisnis Pandemi Covid-19, Begini Kinerja Emiten Bank di BEI

Pandemi Covid-19, Begini Kinerja Emiten Bank di BEI

305
0
Ilustrasi - foto istimewa tirto.id

SERANG – Sektor perbankan adalah salah satu sektor yang cukup disoroti di tengah pandemi Covid-19. Data pertumbuhan PDB yang dirilis oleh BPS menunjukan bahwa pada triwulan II 2020, sektor jasa keuangan mengalami penurunan sebesar -10,32% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Hal ini menjadi sesuatu yang wajar, karena berbagai kebijakan yang dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang menekan beragam aktivitas, mengakibatkan penurunan tingkat konsumsi dan investasi.

Penurunan pertumbuhan jasa keuangan turut andil pada merosotnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertumbuh secara negatif pada triwulan II 2020, yakni – 5.32% (Y-on-Y). Pertumbuhan ekonomi yang terhambat tentu memberikan pengaruh terhadap ekspansi masyarakat dalam memanfaatkan kredit bank.







Dikhawatirkan, perlambatan ekonomi yang terjadi memicu peningkatan non performing loan (NPL) perbankan akibat debitur tidak mampu atau terhambat melakukan pembayaran kredit ke Bank. Lantas, selain soalnon performing loan, seperti apa pula pengaruh penurunan pertumbuhan tersebut terhadap harga saham emiten-emiten perbankan di bursa saham?

Riset Lifepal.co.id menemukan, meskipun menurut data BPS ada penurunan pertumbuhan pada sektor jasa keuangan, nyatanya ada emiten-emiten pada sub sektor jasa keuangan yang pergerakan harga sahamnya masih di atas performa indeks Finance dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebaliknya, ada pula yang performanya di bawah performa indeks tersebut.

Sementara itu, dari sisi kredit macet, ternyata mayoritas bank BUKU IV yang dijadikan sampel, mengalami kenaikan non performing loan (NPL) akibat pandemi ini. Data-data ini dapat menjadi beberapa dari sekian banyak faktor yang perlu diketahui calon investor untuk membuat pertimbangan matang, sebelum berinvestasi di emiten perbankan tertentu.

Ada dua emiten dengan kapitalisasi besar yang kinerjanya mengalahkan IHSG dan Indeks Finance.

Data kinerja menunjukan ada dua emiten perbankan yang kinerjanya sanggup mengalahkan kinerja indeks Finance. Mereka adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

PT Bank Central Asia Tbk adalah bank swasta terbesar di Indonesia. Bank ini didirikan pada 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV dan pernah menjadi bagian penting dari Salim Group. Sekarang bank ini dimiliki dengan porsi terbesar oleh salah satu grup produsen rokok terbesar keempat di Indonesia, Djarum

Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja tanggal 16 Desember 1895.

Melihat dari grafik di atas juga terlihat jika ada 2 emiten perbankan BUKU IV yang mencatatkan kinerja pertumbuhan harga saham di atas IHSG namun masih di bawah indeks Finance yaitu Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank CIMB Niaga. Namun ada juga bank yang kinerja pertumbuhan harga sahamnya di bawah IHSG maupun Indeks Finance, yaitu Bank Danamon dan Bank Panin.

Performa di atas IHSG dan Indeks Finance, BBCA mengalami sedikit penurunan laba komprehensif

Berdasarkan laporan keuangan BBCA, tercatat adanya penurunan total laba komprehensif dari tahun lalu. Tercatat pada Q2 2020, BBCA memperoleh laba komprehensif sebesar 13,18 Triliun Rupiah, lebih rendah dari laba komprehensif yang diperoleh pada Q2 2019, yakni sebesar 14,22 Triliun Rupiah.

Terlihat dari grafik di atas pula, pergerakan harga bank BCA mengalahkan pergerakan Indeks Finance. Dari Januari 2015 sampai data terakhir pada 14 September 2020, BBCA mengalami kenaikan pergerakan harga sebesar kurang lebih 150,15%, sedangkan Indeks Finance hanya mampu mencatat pertumbuhan sebesar 56%.

Performa di atas IHSG dan Indeks Finance, BBRI alami penurunan laba hingga 48,2%

Berdasarkan laporan keuangan BBRI, tercatat adanya penurunan total laba komprehensif dari tahun lalu. Tercatat pada Q2 2020, BBRI memperoleh laba komprehensif sebesar 10,44 Triliun Rupiah, turun hingga 48,2% dari laba komprehensif pada Q2 2019 yakni sebesar 21,65 Triliun Rupiah.

Terlihat dari grafik di atas, pergerakan harga saham bank BRI mengalahkan pergerakan Indeks Finance. Dari Januari 2015 sampai data terakhir pada 14 September 2020, BBRI mengalami kenaikan pergerakan harga sebesar kurang lebih 154,26%, sedangkan Indeks Finance hanya mampu mencatat pertumbuhan sebesar 56%.

Mayoritas emiten perbankan mengalami kenaikan NPL

Non performing loan (NPL) adalah perbandingan kredit yang tidak dapat dikembalikan oleh debitur alias kredit macet, dengan total kredit yang disalurkan bank ke masyarakat.

Semakin kecil NPL, semakin baik kualitas dari kredit yang diberikan bank. Grafik di atas menunjukan ada empat bank BUKU IV yang memiliki NPL berada di bawah NPL rata-rata tujuh emiten bank yang dijadikan sampel riset, yaitu Bank BCA, Bank BNI, Bank BRI, dan Bank Panin.

Grafik tersebut juga menunjukkan, mayoritas bank BUKU IV pada Q2 2020 ini menunjukan kenaikan NPL Gross, yang dapat diartikan bahwa kredit yang tidak dapat dikembalikan oleh debitur meningkat.

(Red)