Beranda Kesehatan Pandeglang Masuk Zona Merah, Jubir Covid-19 Ngaku Karena Laporan yang Terlambat

Pandeglang Masuk Zona Merah, Jubir Covid-19 Ngaku Karena Laporan yang Terlambat

74
0
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan Pandeglang, Achmad Sulaeman.

PANDEGLANG – Lonjakan status penyebaran Covid-19 di Kabupaten Pandeglang cukup mengejutkan. Pasalnya, Pandeglang sempat menyentuh zona kuning di beberapa minggu kemarin namun tiba-tiba langsung naik ke zona merah di awal minggu ini.

Menanggapi hal itu, Juru Bicara (Jubir) Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pandeglang, dr Achmad Sulaeman mengatakan berubahnya status Pandeglang dari zona kuning ke zona merah dikarenakan ada keterlambatan laporan harian yang masuk ke sistem.

“Sebenarnya ini wajar saja karena tim kami di puskesmas itu ada sedikit kendala dalam laporan, di awal bulan kita sempat zona oranye karena laporan tiap harinya lancar tapi sekitar seminggu lebih datanya sama dan itu terlihat bahwa yang ditracking di data kabupaten, provinsi dan pusat itu tidak sama karena belum diinput,” kata Sulaeman saat dihubungi Bantennews.co.id, Rabu (21/7/2021).

Menurut Sulaeman, keterlambatan input laporan harian oleh petugas di puskesmas bukan tanpa alasan. Kata dia, para operator di puskesmas yang biasa melakukan input data banyak yang melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) dengan gejala Covid-19 sehingga input data jadi tertunda. “Secara manual kami punya datanya tapi banyak operator yang melakukan isolasi mandiri dengan gejala jadi tidak bisa melakukan input data sesuai harinya,” ungkapnya.

“Kenapa jadi (zona) merah di awal Minggu ini, karena mereka (operator) setelah selesai Isman melakukan input data lagi dan data yang kemarin itu dikumulatifkan jadi seolah-olah meledak padahal engga karena itu data yang kemarin,” sambungnya.

Pria yang akrab disapa Sule ini menambahkan, sekitar satu minggu data yang belum terinput diperkirakan sekitar 1.200 laporan sehingga saat data tersebut diinput maka jumlah kasusnya akan melonjak drastis seolah ada ledakan besar Covid-19. Padahal, jumlah itu hanya laporan harian yang terlambat saja.

“Jadi data yang tertunda itu kurang lebih ada 1.200 yang belum terinput, terus juga memang petugasnya isoman dengan gejala jadi tidak bisa melakukan pekerjaan di rumah bukan Work From Home,” tutupnya. (Med/Red)