Beranda Artis Pameran Seni Rupa “Connection”, Antara Seni dan Koneksi

Pameran Seni Rupa “Connection”, Antara Seni dan Koneksi

Seorang pengunjung tengah menikamati lukisan dalam pameran bertajuk "Connection" di Aula UIN Sultan Maulana Banten, Kota Serang, Banten. (Foto: Wahyu/bantennews.co.id)

SERANG – Aktivitas seni tak bisa terlepas dari koneksi. Betul bahwa proses penciptaan karya seni, termasuk seni rupa di dalamnya, merupakan proses yang bersifat individual, namun proses apresiasi seni selalu melibatkan banyak orang. Dengan demikian, ada proses kebersamaan berupa ruang sosial dalam seni sehingga sampai kepada khalayak ramai (apresiator).

Semangat tersebut terlihat dari tema yang diusung dalam pameran seni visual Sanggar Embun bertajuk Connection di Aula Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin, Serang, Banten 22-26 November 2018. Pameran tersebut menghadirkan 23 karya seni berupa lukisan, fotografi hingga seni instalasi.

Ketua Sanggar Embun, Q’bro Pandamprana dalam perbincangan dengan BantenNews.co.id mengatakan, konektivitas merupakan hal yang tak terelakkan, termasuk dalam kegiatan kesenian. “Tapi keterhubungan, koneksi itu perlu kejujuran. Tanpa kejujuran, koneksi bisa rusak,” kata pria yang mengenakan newsboy cap beludru di kepalanya itu, Senin (26/11/2018).

Pengunjung saat berpose di salah satu lukisan. (Foto: wahyu/bantennews.co.id)

Dalam pameran Connection, Q’bro juga menyebut berupaya menyambung antara narasi lama hingga kontemporer dalam seni rupa. Selain itu, dalam pameran yang sama, semangat koneksi juga berusaha ditampilkan melalui perwakilan perupa dari beberapa wilayah di Banten.

Di era media sosial yang menggeliat pesat seperti sekarang ini, Q’bro juga menilai keterhubungan manusia semakin kuat. Fenomena tersebut, menurut dia, menjadi situasi yang harus direspons oleh kalangan seniman. “Termasuk pameran ini tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya ‘connection’,” katanya sambil berseloroh.

Di sisi lain, Q’bro juga mengkritisi pola relasi antar individu yang semakin tanpa sekat di era media sosial. “Sekali lagi, yang harus diutamakan kejujuran. Baik kejujuran dalam berkarya, kejujuran bersikap, dan kejujuran dalam berbicara. Supaya selaras antara yang diucapkan dengan kenyataan. Fenomena hoaks dan plagiasi adalah contoh buruk yang harus dihindari dalam berkesenian,” jelasnya.

Akademisi UIN Banten sekaligus Direktur Bantenologi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Helmi FB Ulumi menilai ekspresi seni tidak serta merta terlepas dari proses ekspresi dan simbolisasi. Karya seni merupakan relasi sekaligus tegangan antara pengalaman manusia dengan lingkungannya.

“Saya melihat ada benang merah antara tema Connection dalam pameran senirupa ini dengan kodrat manusia sebagai makhluk budaya yang selalu berhubungan dengan segala yang ada dalam pengalamannya,” tulis Helmi dalam sambutannya.

Bentuk kebersamaan tersebut, menurut dia, sesuai dengan salah satu kategori manusia versi filsuf Martin Heidegger. “Mitdasein (bersama-ada-di-sana), atau dengan kata lain manusia sebagai makhluk sosial. Pun demikian dengan kerja bersama dalam bentuk pameran seni. Ia bukanlah semata-mata kumpulan para seniman yang berhasrat memamerkan karyanya saja. Kerja bersama yang bernama pameran itu menurut saya adalah medan simbol yang saling terkoneksi satu sama lainnya sekaligus wujud Mitdasein-nya para seniman dengan seniman, maupun seniman dengan apresiatornya,” tandasnya.

Pameran ini menampilkan senirupa berjudul “Nyambat” karya Adhy Handayana, “Terbelah” karya Antoni Budi Mulia, “Sleep in Anxiety” karya Chandra Rosselini, “Pesta Baru Dimulai” karya Erwin Trihendarto, “Again (ST)” karya Hendy Hernandy, “Teman Sejati” karya Ika Kurnia Mulyati, “Medan Energy” karya Imelda Ameliasari, “Seba Baduy” karya Gebar Sasmita, “Untitte” karya Alm. A Inayat (Yayat), “Crossmama” karya Q’bro Pandamprana, “Angel” karya RB Ali, “Perjalanan Panjang” karya Sumaeji, “Koloni” karya Tubagus Patoni, “Dilema” karya Wita Delvi, “Versus” karya YB Roy, “Untitle” karya Budi Santoso, “Telur Mata Sapi” karya Wisnu Ardian, Sutarno Hatmodiyono, “Menunggu” karya Deden Maulyana, “Tak Terbatas” karya Ricky Septiawan. (You/Red)