
TANGSEL – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Banten menyebut kinerja industri perbankan di Banten hingga Maret 2026 tetap menunjukkan tren positif. Dari catatan OJK, pertumbuhan aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan penyaluran kredit masih berada di jalur positif meski laju kredit mulai melambat.
Data OJK menunjukkan total aset perbankan di Banten mencapai Rp358,72 triliun atau tumbuh 5,31 persen secara tahunan.
Sementara itu, penghimpunan DPK mencapai Rp309,73 triliun atau naik 6,39 persen. Penyaluran kredit juga masih tumbuh 3,55 persen hingga menyentuh Rp218,58 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kepala OJK Provinsi Banten (KOSE), Adi Dharma mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan sektor perbankan Banten masih memiliki fondasi yang kuat di tengah tekanan ekonomi nasional dan global.
“Kinerja sektor perbankan di Banten hingga Maret 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif. Aset, dana pihak ketiga, dan penyaluran kredit masih tumbuh dengan kualitas kredit yang tetap terjaga,” kata Adi saat kegiatan Journalist Class angkatan 12 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (29/6/2026).
Dari sisi kualitas kredit, rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level 3,30 persen atau masih dalam batas aman.
Sementara rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 70,57 persen. Angka ini menunjukkan likuiditas perbankan di Banten masih longgar dan memberi ruang bagi bank untuk memperbesar penyaluran kredit ke sektor produktif.
Dari komposisi DPK, tabungan masih mendominasi simpanan masyarakat dengan nilai Rp118,77 triliun atau tumbuh 5,89 persen.
Giro mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,94 persen hingga mencapai Rp101,22 triliun.
Sebaliknya, deposito justru turun 8,98 persen menjadi Rp89,74 triliun. Kondisi ini menunjukkan masyarakat mulai mengalihkan dana ke instrumen simpanan yang lebih likuid.
Di sektor pembiayaan, kredit konsumsi masih mendominasi dengan nilai Rp116,77 triliun atau tumbuh 5,50 persen.
Kredit investasi juga mencatat pertumbuhan cukup kuat sebesar 8,14 persen hingga menyentuh Rp38,64 triliun.
Namun, kredit modal kerja justru melemah. Nilainya tercatat Rp63,18 triliun atau turun 2,33 persen dibanding tahun sebelumnya.
Adi menilai, kondisi tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang masih bergerak stabil.
Meski begitu, ia menegaskan, pentingnya mendorong pertumbuhan kredit produktif, khususnya kredit modal kerja, agar sektor usaha semakin kuat dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd