TANGSEL — Pagi itu, Lapangan Sepak Bola Rempoa di Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), berubah wajah. Warna-warni busana Betawi memenuhi sudut lapangan.
Peci hitam, kebaya encim, kain batik, hingga selendang cerah berpadu dengan suara gambang kromong yang mengalun dari pengeras suara.
Warga berdatangan sejak Sabtu pagi, 9 Mei 2026. Anak-anak kecil berlarian sambil membawa ornamen khas Betawi. Sejumlah orang tua sibuk mengabadikan momen lewat telepon genggam mereka.
Di tengah hiruk-pikuk kota satelit yang terus tumbuh modern, nuansa Betawi mendadak terasa hidup kembali.
Karnaval budaya itu membuka rangkaian “7 Calendar of Event” Kota Tangerang Selatan yang berlangsung di Ciputat Timur. Panitia menghadirkan Festival Lebaran Betawi, pertunjukan silat tradisional, hingga berbagai kesenian khas Betawi lainnya.
Bagi sebagian warga, acara tersebut bukan sekadar hiburan akhir pekan. Mereka datang membawa rasa rindu terhadap budaya yang perlahan mulai tersisih oleh ritme kota.
Panitia penyelenggara, Edi Priatna mengatakan, acara itu sengaja dibuat untuk menjaga budaya Betawi tetap hadir di tengah masyarakat Tangsel.
“Kami ingin budaya Betawi tetap dikenal dan dicintai masyarakat, khususnya generasi muda,” kata Edi di sela kegiatan, Sabtu (9/5/2026).
Menurut dia, Festival Lebaran Betawi menjadi bagian penting dalam rangkaian acara karena menggambarkan suasana khas keluarga Betawi saat Idulfitri.
Dalam pertunjukan itu, warga menyaksikan tradisi saling bersalaman, berkumpul bersama keluarga, hingga suasana hangat khas rumah Betawi.
“Budaya Betawi kuat dengan nilai kekeluargaan. Itu yang ingin kami tampilkan,” ujarnya.
Panitia dan pengurus Lembaga Budaya Betawi (LBB) Kota Tangerang Selatan menyiapkan acara tersebut hampir satu bulan. Mereka berharap festival budaya seperti itu terus berlangsung setiap tahun dengan konsep yang lebih besar.
Ketua Lembaga Budaya Betawi Kota Tangerang Selatan, Abdul Karim, menyebut 7 Calendar of Event menjadi roadshow budaya pertama yang digelar di tujuh kecamatan di Tangsel.
“Hari ini pembukaan pertama di Ciputat Timur. Kami ingin budaya Betawi terus hadir dan menjadi identitas masyarakat Tangsel,” kata Karim.
Menurutnya, ruang pertunjukan budaya sangat penting agar para pelaku seni tradisional tetap memiliki tempat di tengah derasnya modernisasi kota.
“Kalau bukan kita yang menjaga budaya Betawi, siapa lagi,” ujarnya.
Karim juga berharap pemerintah daerah dan kalangan legislatif memberi perhatian lebih serius terhadap pelestarian budaya lokal. Sebab, pelaksanaan kegiatan budaya saat ini masih mengandalkan partisipasi masyarakat dan tokoh budaya tanpa dukungan APBD.
Di tengah keramaian acara, Nuraini (48), warga Ciputat Timur, tampak duduk bersama keluarganya sambil menyaksikan pertunjukan silat Betawi. Ia sengaja datang sejak pagi untuk mengenalkan budaya Betawi kepada anak-anaknya.
“Sekarang anak-anak lebih sering lihat budaya lewat media sosial. Jadi pas ada acara seperti ini saya ajak datang supaya mereka tahu langsung tradisi Betawi,” katanya.
Suara musik tradisional yang mengalun di arena festival membangkitkan nostalgia masa kecilnya.
“Tadi pas dengar musik Betawi rasanya nostalgia. Sudah lama jarang lihat acara seperti ini,” ujarnya sambil tersenyum.
Hal serupa dirasakan Rahmat Hidayat (27). Warga Ciputat Timur itu menilai festival budaya di ruang publik mampu mendekatkan masyarakat dengan identitas daerahnya sendiri.
“Bagus karena masyarakat bisa menikmati budaya Betawi langsung, bukan cuma dengar cerita,” katanya.
Menjelang siang, lapangan semakin padat dipenuhi warga. Anak-anak terus berlarian mengikuti parade, sementara musik tradisional dan atraksi silat tetap bergema di tengah kota yang terus bergerak modern.
Di Ciputat Timur pagi itu, budaya Betawi seolah belum benar-benar hilang. Ia hanya menunggu ruang untuk kembali hidup di tengah masyarakat yang mulai merindukannya.
Penulis : Ahmad Rizki
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
