Beranda Peristiwa Mustasyar PCNU Kota Serang Ingatkan Kader Tak Jadikan NU Batu Loncatan Kepentingan

Mustasyar PCNU Kota Serang Ingatkan Kader Tak Jadikan NU Batu Loncatan Kepentingan

Mustasyar PCNU Kota Serang KH Matin Syarkowi memberikan sambutan. (Istimewa)

KAB. SERANG – Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang, KH Matin Syarkowi, menyoroti fenomena kader yang menjadikan NU sebagai batu loncatan untuk kepentingan pribadi.

Hal tersebut disampaikan KH Matin Syarkowi dalam Rapat Pleno PCNU Kota Serang yang digelar di Hotel Wisata Baru, Kota Serang, Banten, Jumat (16/1/2026).

Matin menegaskan bahwa khidmat di NU harus dilandasi niat pengabdian, bukan ambisi jabatan.

“Berjuang di NU bukan untuk mencari posisi. NU adalah wadah pengabdian dan perjuangan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar warga NU tidak mengecilkan peran dan kontribusi organisasi, baik di tingkat lokal maupun nasional. Menurutnya, kiprah NU di Kota Serang dan Provinsi Banten memiliki rekam jejak yang jelas dan terdokumentasi.

Bahkan, Matin mengaku siap membuka arsip sejarah pendirian Kota Serang sejak 2007 untuk menunjukkan peran strategis warga NU dalam proses tersebut.

“Saya memimpin NU di Kota Serang selama tiga periode. Dalam masa itu, NU tetap bergerak tanpa bergantung pada proposal bantuan,” ujar A’wan PBNU Masa Khidmat 2022–2027 itu.

Ia mengenang proses panjang perjuangan pendirian Kota Serang yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, banyak kontribusi warga NU yang tidak selalu mendapat pengakuan secara terbuka.

Lebih lanjut, Matin mengajak seluruh nahdliyin untuk menjaga soliditas organisasi di tengah berbagai tantangan. Ia menilai NU kerap disudutkan melalui narasi negatif yang tidak sesuai dengan realitas.

“NU sering digambarkan tidak profesional dan selalu dikaitkan dengan hal-hal negatif. Ini harus dijawab dengan kerja nyata dan kebersamaan,” katanya.

Rapat pleno ini menjadi ruang refleksi arah gerak NU di tingkat cabang. Para pengurus melakukan evaluasi program sekaligus menata ulang struktur organisasi agar lebih adaptif dan responsif terhadap tantangan zaman.

Baca Juga :  Korban Dukun Cabul di Pandeglang Bertambah

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Serang, KH Saifun Nawasi, membuka rapat dengan menekankan pentingnya soliditas dan kebersamaan di tubuh organisasi.

Ia menyampaikan rasa syukur karena seluruh pengurus dapat kembali bertemu dalam forum resmi setelah disibukkan berbagai agenda masing-masing.

“Kita kembali duduk bersama dalam rapat pleno PCNU. Semoga pertemuan ini membawa hikmah dan keberkahan,” kata Saifun dalam sambutannya.

Saifun mengakui dinamika organisasi sering membuat intensitas pertemuan tidak terjaga. Kesibukan pribadi dan tanggung jawab sosial para pengurus menjadi tantangan yang tidak terhindarkan.

Namun, melalui rapat pleno ini, ia berharap semangat kolektif pengurus dapat kembali diperkuat.

“Mudah-mudahan pertemuan ini menjadi wasilah agar kita kembali bergerak bersama, berkarya, dan berkhidmat untuk umat,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Saifun juga menyinggung kondisi internal kepengurusan, termasuk adanya pengurus yang wafat, mengundurkan diri, serta kader yang siap melanjutkan estafet pengabdian. Seluruh dinamika tersebut akan dibahas secara terbuka dan diputuskan melalui mekanisme organisasi.

Menurutnya, penataan struktur dan evaluasi program menjadi langkah krusial agar PCNU Kota Serang tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan umat.

Pandangan strategis turut disampaikan Sekretaris PWNU Provinsi Banten, Ahmad Nuri. Ia mengingatkan kader NU untuk kembali meneguhkan prinsip kemandirian organisasi sebagaimana diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama.

Nuri menegaskan, NU memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa. Bahkan, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, warga NU telah mengambil peran penting dalam perjuangan kemerdekaan.

“NU berdiri pada 1926, jauh sebelum republik ini lahir. Kita tidak pernah bergantung pada negara. Bahkan, pendiri bangsa ini juga bagian dari kita,” ujarnya.

Ia menilai sikap bergantung pada kekuasaan tidak sejalan dengan khittah NU. Menurutnya, NU harus tampil sebagai kekuatan sosial yang mandiri, berdaulat, dan mampu memberi arah bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga :  Polemik Dualisme PBNU Memanas, A’wan PBNU Minta Rais Aam dan Ketum Segera Sadar

“Khittah NU adalah membangun kemandirian. Bukan NU yang bergantung, tetapi pihak lain yang seharusnya melihat peran besar NU,” tegasnya.

Ia berharap Rapat Pleno PCNU Kota Serang menjadi ruang introspeksi untuk meluruskan cara pandang warga NU dalam menjalin relasi dengan negara. Menurutnya, hubungan NU dan negara harus bersifat simbiotik dan saling menghormati.

“NU punya akar sejarah yang kuat dalam republik ini. Perhatian negara seharusnya hadir tanpa harus diminta,” katanya.

Penulis: Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor: Gilang Fattah