Beranda Pendidikan Museum Multatuli, Rumah Tua Penyimpan Luka dan Keberanian Rakyat Lebak

Museum Multatuli, Rumah Tua Penyimpan Luka dan Keberanian Rakyat Lebak

Sejumlah pengunjung saat melihat potret sejarah Multatuli. (Mg-Aldo Marantika/Bantennews)

LEBAK – Di tengah hiruk pikuk Kota Rangkasbitung, berdiri sebuah rumah panggung tua berbahan kayu jati. Cat cokelatnya mulai memudar, lantainya berderit saat diinjak, sementara jendela-jendela tua masih kokoh menghadap jalan. Bangunan itu mungkin terlihat sederhana bagi orang yang melintas.

Namun, di balik dindingnya, tersimpan kisah yang mengubah cara dunia memandang kolonialisme Belanda di Hindia.

Rumah itu kini dikenal sebagai Museum Multatuli. Dahulu, bangunan tersebut menjadi rumah dinas Eduard Douwes Dekker saat menjabat sebagai Asisten Residen Lebak pada 1856.

Masa tugasnya hanya berlangsung sekitar tiga bulan, tetapi keputusan yang lahir dari rumah itu mengguncang sejarah.

“Ini Museum Multatuli. Dulu rumah tempat Eduard Douwes Dekker menjabat sebagai Asisten Residen Lebak. Dia hanya tiga bulan bertugas pada 1856, tetapi tiga bulan itu cukup mengubah sejarah Indonesia,” ujar Dinda, salah seorang pengunjung Museum Multatuli, Jumat (17/7/2026).

Bangunan yang berdiri sejak 1828 itu masih mempertahankan sebagian besar bentuk aslinya. Tiang-tiang kayu, lantai, hingga kaca patri tetap terawat dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Lebak.

Di rumah inilah Eduard Douwes Dekker menyaksikan langsung penderitaan masyarakat. Ia melihat praktik penindasan dan pemerasan yang dilakukan penguasa lokal terhadap rakyat di bawah sistem kolonial.

Alih-alih menutup mata, Dekker memilih melawan. Ia melaporkan praktik tersebut kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Namun laporannya tidak mendapat respons yang diharapkan.

Kekecewaan itu membuatnya memilih mengundurkan diri dari jabatannya.

Lima tahun kemudian, dari Eropa, ia menulis novel Max Havelaar dengan nama pena Multatuli. Buku tersebut membuka mata dunia terhadap praktik kolonialisme di Hindia Belanda dan menjadi salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Baca Juga :  Siswa SMAN 1 Cimarga Berhenti Mogok Sekolah

Perlawanan yang Lahir dari Sebuah Meja Kayu

Museum ini tidak menghadirkan kemewahan. Pengunjung justru menemukan ruang kerja sederhana dengan meja kayu, kursi, serta replika lampu minyak.

Di ruangan itulah Dekker menyusun surat pengunduran dirinya dan memulai perjalanan yang kemudian melahirkan sebuah karya monumental.

Museum juga menyimpan berbagai koleksi sejarah, mulai dari foto-foto Lebak tempo dulu, peta lama Kabupaten Lebak, salinan surat-surat Multatuli, patung Multatuli, buku Max Havelaar, hingga miniatur yang menggambarkan penindasan terhadap rakyat pada masa kolonial.

Setiap sudut ruangan menghadirkan potongan cerita tentang keberanian seorang pejabat yang memilih berpihak kepada rakyat, meski harus kehilangan jabatan.

Lubang Multatuli, Tempat Lahirnya Sebuah Gagasan

Di bagian belakang museum terdapat salah satu lokasi yang paling menarik perhatian, yakni Lubang Multatuli.

Menurut Dinda, tempat itu menjadi ruang perenungan bagi Eduard Douwes Dekker sebelum menuangkan pikirannya ke dalam tulisan yang kemudian mengguncang pemerintahan kolonial Belanda.

Baginya, Museum Multatuli bukan sekadar destinasi wisata sejarah. Museum ini menjadi ruang belajar bagi generasi muda tentang arti keberanian menyuarakan kebenaran, kekuatan tulisan, dan pentingnya memahami sejarah daerah sendiri.

“Kalau ke Rangkasbitung, sempatkan datang ke sini. Duduk di teras rumah ini, lalu tanyakan kepada diri sendiri, kalau menjadi Multatuli, beranikah kita bersuara ketika melihat ketidakadilan?” katanya.

Lebih dari satu abad setelah kisah itu berlalu, rumah tua di Rangkasbitung masih berdiri. Dindingnya mungkin mulai menua, tetapi pesan yang ditinggalkan Multatuli tetap hidup, satu suara yang berani melawan ketidakadilan dapat mengubah sejarah.

Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd