BULAN Ramadhan selalu datang membawa getar yang berbeda. Ia bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriyah, melainkan ruang perenungan, penyucian diri, dan penguatan ikatan sosial. Di tanah Sunda, momen istimewa ini disambut melalui sebuah tradisi turun-temurun yang disebut munggahan.
Lebih dari sekadar makan bersama, munggahan adalah simbol “naik kelas” secara spiritual—sebuah ikhtiar membersihkan hati sebelum memasuki bulan penuh berkah.
Secara bahasa, kata munggahan berasal dari bahasa Sunda “munggah” yang berarti naik. Filosofinya sederhana namun dalam: sebelum Ramadhan tiba, setiap orang diajak untuk meningkatkan kualitas diri—baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia.
Tradisi ini umumnya dilakukan pada akhir bulan Sya’ban, satu atau dua hari sebelum awal puasa. Masyarakat berkumpul bersama keluarga besar, sahabat, atau tetangga. Mereka makan bersama, saling bermaafan, berbagi cerita, dan memanjatkan doa agar diberi kelancaran menjalani ibadah puasa.
Di tengah ritme hidup modern yang serba cepat, munggahan menjadi jeda yang menenangkan—ruang untuk kembali pada akar: keluarga dan kebersamaan.
Tradisi munggahan diyakini telah berlangsung sejak masa awal penyebaran Islam di tanah Sunda. Para ulama terdahulu menyampaikan ajaran Islam melalui pendekatan budaya, menjadikan tradisi lokal sebagai media dakwah yang penuh kearifan.
Nilai-nilai Islam seperti silaturahmi, saling memaafkan, dan sedekah kemudian menyatu dalam praktik munggahan. Dari sinilah tradisi ini terus hidup, diwariskan lintas generasi sebagai bagian dari identitas kultural masyarakat Jawa Barat.
Munggahan memang identik dengan hidangan lezat. Nasi liwet hangat, opor ayam, sambal goreng ati, hingga ikan asin kerap menjadi menu utama. Semua disantap bersama dalam suasana lesehan yang akrab.
Tak ketinggalan jajanan tradisional seperti wajit, rangginang, uli, dan dodol. Uli yang lengket melambangkan eratnya persaudaraan, sementara rangginang mencerminkan keteguhan hati dalam menjalani ibadah.
Namun sejatinya, esensi munggahan bukan pada makanannya—melainkan pada momen kebersamaannya. Tawa yang pecah di antara suapan, cerita yang mengalir tanpa sekat, hingga jabat tangan penuh maaf menjadi inti dari perayaan ini.
Ziarah dan Refleksi Diri
Sebagian keluarga melengkapi munggahan dengan ziarah ke makam leluhur. Tradisi ini diisi dengan doa bersama dan membersihkan area makam sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berpulang.
Ziarah bukan sekadar ritual, melainkan pengingat tentang kehidupan yang fana. Dari sana, tumbuh kesadaran untuk memperbaiki diri sebelum memasuki Ramadhan.
Walaupun lekat dengan masyarakat Sunda, tradisi menyambut Ramadhan dengan makan dan doa bersama juga ditemukan di berbagai daerah lain.
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tradisi serupa dikenal dengan istilah megengan. Konsepnya sama: berkumpul, berdoa, dan mempererat silaturahmi. Di sejumlah wilayah Sumatera, masyarakat melakukan ziarah massal dan doa bersama di masjid atau surau. Sementara di daerah pesisir, munggahan kerap diisi dengan kegiatan sosial seperti membersihkan masjid atau berbagi makanan kepada kaum dhuafa.
Keberagaman bentuk ini menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang tetap berakar pada nilai yang sama: kebersamaan dan kesiapan spiritual.
