Beranda Pemerintahan Miris, Siswa SMA di Lebak Belajar di Lantai dan Ruang Sempit 

Miris, Siswa SMA di Lebak Belajar di Lantai dan Ruang Sempit 

85
0
SMA Negeri 1 Cirinten di Kampung Cilubang, Desa Karangnunggal, Kecamatan Cirenten Kabupaten Lebak, terpaksa belajar di lantai tanpa kursi. Kondisi sekolah yang memprihatinkan ini luput dari perhatian pemerintah. (Fotografer:Ali/bantennews.co.id)

SERANG – Sekilas nampak tidak ada yang aneh dengan kondisi siswa di SMA Negeri 1 Cirinten yang terletak di Kampung Cilubang, Desa Karangnunggal, Kecamatan Cirenten Kabupaten Lebak. Namun siswa kelas X, kelas XI dan kelas XII disekolah tersebut harus belajar di lantai hanya beralaskan karpet seadanya.

Ruang belajar hanya sebuah ruangan berukuran 2,5 meter x 5 meter yang di sulap menjadi ruangan kelas yang dipinjamkan dari pihak SMP Negeri 2 Cirenten. Sebuah ironi potret dunia pendidikan yang terjadi di Provinsi Banten.

Kondisi siswa yang tengah belajar di ruang kelas. (Fotografer: Ali/Bantennews.co.id)

Ahmad Sulaeman salah satu guru mengunkapkan kondisi Kegiatan BelajarMmengajar (KBM) seperti itu sudah berjalan selama tjuh tahun sejak mulai dirintis berdirinya sekolah sejak tahun 2012 silam. Pihak sekolah tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi yang terjadi di sekolah.

“Sudah berulang kali kita dari pihak sekolah mengajukan bantuan kepada Dinas (Pendidika) Provinsi Banten untuk pembangunan gedung sekolah. Namun, sampai saat ini belum juga terelisasi. Padahal untuk warga di sekitar sangat antusias dengan adanya sekolah tersebut,” kata Ahmad Sulaeman kepada BantenNews.co.id, Selasa (7/8/2018).

Meski demikian, prosses kegitan belajar mengajar di sekolah harus tetap berjalan. Malaupun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dengan belajar di lantai beralasan karpet seadanya dalam ruangan kelas sempit yang tak layak untuk sebuah tempat belajar.

“Sejak dirintis  pada tahun 2012 kita sudah meluluskan empat kali angkatan dan disekitar sini ada empat sekolah penunjang sehingga potensial untuk kelangsungan sekolah ini,” tutur Ahmad Sulaeman menambahkan.

Sementara itu, Anisa salah satu siswa mengharpkan kepada dinas terkait untuk segera membangun sekolahnya agar sekolahnya  agar bisa seperti sekolah lainya.

“Belajar seperti ini tidak nyaman, kita ngga bisa konsentrasi. Kami ingin punya gedung sekolah seperti sekolah-sekolah yang lain,” kata Anisa. (Tra/Ali/Red)