
LEBAK – Puluhan siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Izzaturrahman di Kampung Babakan Keramat, Desa Sukanegara, Kecamatan Gunungkencana, Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang mengalami kerusakan parah.
Kondisi bangunan yang lapuk, atap bocor, dinding mulai retak, serta banyak genteng bergeser membuat proses belajar mengajar berlangsung kurang nyaman. Kondisi tersebut juga dikhawatirkan membahayakan keselamatan siswa maupun guru.
Kepala PAUD Izzaturrahman, Halimah, mengatakan pihak sekolah telah beberapa kali melakukan perbaikan secara swadaya. Namun, upaya tersebut tidak mampu mengatasi kerusakan karena kondisi bangunan sudah sangat rapuh.
“Kerusakan sudah berlangsung bertahun-tahun. Siswa terpaksa belajar dalam kondisi ruang kelas yang rusak. Perbaikan sudah berkali-kali dilakukan, tetapi tetap saja rusak kembali karena bangunannya memang sudah rapuh,” kata Halimah kepada awak media, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, pihak sekolah juga telah mengajukan permohonan bantuan kepada dinas terkait hingga kementerian. Namun, hingga kini belum ada realisasi bantuan.
“Kami sudah berkirim surat ke dinas terkait bahkan hingga ke kementerian, tetapi belum ada hasil. Sementara ada PAUD di wilayah lain yang sudah mendapatkan bantuan, padahal kondisi bangunannya tidak separah sekolah kami,” ujarnya.
Halimah menjelaskan, hampir seluruh ruang kelas mengalami kerusakan berat. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dilakukan di ruang yang ditutup menggunakan lembaran asbes agar tetap dapat digunakan.
“Kami hanya berharap bantuan dari mana pun segera datang, karena seluruh ruang kelas di sekolah kami sangat rawan digunakan untuk kegiatan pembelajaran,” ungkapnya.
Meski berada dalam keterbatasan, para guru tetap berupaya memberikan pembelajaran terbaik agar proses pendidikan tidak terhenti.
“Saat hujan turun, kegiatan belajar sering kali terganggu karena air masuk ke dalam ruangan,” tambahnya.
Sementara itu, Lilis, salah seorang orang tua siswa, mengaku khawatir dengan kondisi bangunan sekolah yang rusak.
“Setiap hari kami merasa waswas ketika anak belajar. Namun karena semangat mereka untuk sekolah sangat tinggi, kami tetap mengizinkan. Saat musim hujan, kegiatan belajar bahkan terkadang dipindahkan ke emperan rumah warga,” tuturnya.
Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo