
SERANG – Kreativitas siswa dari kawasan pesisir Karangantu berhasil mencuri perhatian. Zulfan Azhar Rayhan, murid SD Harjamukti, Kelurahan Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengantarkan miniatur perahu layar buatannya menjadi Juara I Seni Kriya Festival Lomba Seni dan Sastra Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi Banten.
Prestasi itu mengantar Zulfan menjadi wakil Banten pada FLS2N tingkat nasional yang akan berlangsung pertengahan Agustus 2026.
Miniatur perahu layar tersebut lahir dari bahan-bahan sederhana seperti daun, biji-bijian, kulit petai, hingga kardus bekas. Namun, di tangan Zulfan, bahan-bahan itu berubah menjadi karya seni yang sarat nilai budaya sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, Ahmad Nuri menilai, pencapaian Zulfan membuktikan bahwa murid dari sekolah di kawasan pesisir mampu bersaing dengan pelajar dari daerah lain.
“Zulfan ini berasal dari SD Harjamukti di kawasan pesisir. Walaupun dari sekolah pinggiran, ternyata mampu menjadi juara tingkat provinsi dan kini melaju ke tingkat nasional,” ujar Ahmad Nuri, Selasa (4/8/2026).
Menurut Ahmad Nuri, miniatur perahu karya Zulfan tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga merepresentasikan kehidupan masyarakat pesisir Karangantu yang lekat dengan budaya maritim Banten.
Karya itu bahkan mulai menghasilkan nilai ekonomi. Ahmad Nuri mengungkapkan, miniatur perahu buatan Zulfan sudah menerima sekitar 10 pesanan dari masyarakat.
“Ini membuktikan bahwa karya seni peserta didik tidak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan membuka peluang usaha kreatif,” katanya.
Sebagai bentuk apresiasi, Wali Kota Serang Budi Rustandi menyerahkan langsung uang pembinaan kepada Zulfan. Dindikbud Kota Serang bersama pihak sekolah juga terus mematangkan persiapan Zulfan agar tampil maksimal pada FLS2N tingkat nasional.
Kepala SD Harjamukti, Nunung Rodiah, menjelaskan miniatur perahu itu memanfaatkan berbagai bahan alami dan barang daur ulang, seperti daun, biji-bijian, kulit petai, hingga kardus bekas.
Menurutnya, tantangan terbesar justru muncul saat mengumpulkan bahan baku yang sesuai, bukan ketika merangkai miniatur tersebut.
“Bahannya hampir semua dari alam. Justru yang paling lama adalah proses mengumpulkan bahan yang berkualitas. Setelah semua terkumpul, proses pembuatannya sekitar lima jam,” ujarnya.
Nunung berharap Zulfan kembali mengharumkan nama Kota Serang dan Provinsi Banten di tingkat nasional. Ia menilai prestasi itu menjadi bukti bahwa kreativitas anak-anak pesisir mampu melahirkan karya berkelas, bernilai ekonomi, sekaligus memperkenalkan identitas budaya lokal di panggung nasional.
Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd