Beranda Budaya Mexolie, Pabrik Minyak di Lebak yang Berubah Jadi Pabrik Senjata pada Masa...

Mexolie, Pabrik Minyak di Lebak yang Berubah Jadi Pabrik Senjata pada Masa Penjajahan

Bangunan pabrik minyak kelapa Mexolie di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, (Aldo Marantika/Bantennews)

LEBAK – Di tengah hiruk pikuk kota Rangkasbitueng, berdiri kokoh bangunan tua bercat kusam di Jalan Sunan Giri, Kelurahan Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Dindingnya tebal atapnya tinggi dan cerobongnya masih menjulang.

Warga setempat menyebut pabrik Mexolie. Nama yang dulu pernah membuat Rangkasbitung dikenal sampai ke Eropa.

Nama resminya N.V. Maats happij tot Exploitatie van Olie-fabriek. Didirikan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1918 dan mulai beroperasi penuh pada tahun 1926.

Pada masanya, pabrik ini adalah pusat pengolahan minyak kelapa terbesar di Asia tenggara. Namun kini, bangunan pabrik ini hanya tinggal kenangan dan sejarah.

Salah seorang warga sekitar, Ridwan menceritakan bahwa wilayah Lebak kala itu lebat dengan pohon kelapa. Pasokan melimpah, murah dan berkualitas. Belum lagi posisi Rangkasbitung yang strategis, dekat dengan jalur kereta api dan pusat pemerintahan Kabupaten, hingga membuat distribusi ke Batavia dan pelabuhan jadi lebih mudah.

“Pada puncak kejayaannya, pabrik ini mengekspor minyak kelapa dalam jumlah besar ke berbagai negara. Pekerja lokal digaji di sini. Warung, pasar dan permukiman tumbuh di sekitar pabrik,” kata Ridwan kepada Bantennews, Jumat (14/8/2026).

Menurut Ridwan, dengan adanya pabrik minyak kelapa ini Rangkasbitung masuk ke dalam area industrial lebih awal dibandingkan daerah lain di Banten.

“Orang tua saya dulu cerita, kalau kerja di Mexolie itu kebanggaan. Gajinya teratur, cukup untuk membiayai sekolah anak,” ungkapnya.

Ridwan juga menceritakan, bahwa selain menjadi pabrik minyak kelapa terbesar se-Asia Tenggara. Mexolie juga memiliki catatan lain yang jarang ditulis di buku sejarah.

Saat agresi militer Belanda dan masa mempertahankan kemerdekaan, Komplek Mexolie diambil alih oleh para pejuang, dapur pengolahannya disulap menjadi bengkel senjata.

Baca Juga :  Golok Banten Didorong Terdaftar di Unesco Sebagai Warisan Budaya Indonesia

“Di sinilah mortir, granat, alat pelontar, bom tarik hingga ranjau darat pernah dibuat. Besi-besi dari mesin pabrik dilebur. Oli dan bahan kimia dipakai untuk membuat mesiu,” ujarnya.

“Bagi para pejuang, Mexolie adalah tempat berlindung dan tempat melawan. Bagi Belanda, ini adalah fasilitas vital yang harus direbut kembali. Jejak peluru di beberapa dinding tua konon masih bisa ditemukan sampai sekarang,” sambungnya.

Pada akhir abad 20, pasar minyak dunia berubah. Minyak kelapa kalah bersaing dengan minyak kelapa sawit, yang produksinya lebih mahal dan harganya jauh lebih murah. Permintaan ekspor anjlok. Mesin-mesin tua Mexolie tak mampu bersaing.

“Awal tahun 2000-an, pabrik ini resmi berhenti beroperasi. Mesin berhenti, pekerja di rumah kan dan gerbang besarnya dikunci. Dari raja minyak, Mexolie  menjadi bangunan kosong,” terangnya.

Saat ini, bekas pabrik Mexolie ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya peninggalan kolonial. Arsitekturnya khas Belanda, bata merah tebal, ventilasi tinggi, dan struktur baja yang masih kokoh meski sudah dimakan usia.

“Tidak ada lagi suara mesin, yang ada hanya suara angin lewat di sela-sela atap dan sekali anak muda datang untuk bersua foto,” katanya.

Menurut Ridwan, bagi sebagian orang Mexolie adalah simbol kemunduran industri, tetapi bagi sejarawan dan warga Rangkasbitung, ini adalah saksi. Saksi bagaimana Lebak pernah jadi pusat ekonomi, saksi bagaimana rakyat mengubah pabrik minyak jadi pabrik senjata demi kemerdekaan.

“Kalau bisa dirawat jadi museum, anak cucu kita tahu Rangkasbitung pernah sebesar ini, dari minyak kelapa ke kemerdekaan, dari ekspor ke reruntuhan. Mexolie mungkin sudah tutup, tapi ceritanya belum selesai,” ujarnya.

Penulis : Mg-Aldo Marantika

Editor : TB Ahmad Fauzi