Beranda Bisnis Merajut Asa di Tengah Sepinya Pesanan, Kisah Perajin Pandan Pandeglang

Merajut Asa di Tengah Sepinya Pesanan, Kisah Perajin Pandan Pandeglang

Tumpukan topi anyama di salah satu rumah perajin di Pandeglang. (Memed/bantennews)

Di sudut rumah-rumah sederhana di Kecamatan Banjar dan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang, jemari para perajin masih setia menari di atas helai-helai daun pandan.

Mereka menganyam dengan telaten, menyusun serat demi serat hingga membentuk topi-topi tradisional yang selama ini menembus pasar ekspor.

Ribuan topi anyaman kini menumpuk di sudut ruangan. Sekitar 2.000 buah belum menemukan pembeli setelah perusahaan mitra, PT Dados Sekana, menghentikan kerja sama.

Padahal selama ini, perusahaan tersebut rutin menyerap hasil produksi untuk kebutuhan ekspor.

Adi Pandat, pemilik UMKM kerajinan anyaman daun pandan, merasakan langsung perubahan itu. Ia melihat para perajin mulai mengurangi jumlah produksi karena pasar tak lagi menyerap seperti sebelumnya.

“Sekarang produksi hanya untuk skala lokal saja, tidak sebesar dulu. Kalau dulu serapannya bisa ribuan, sekarang hanya ratusan,” kata Adi, Sabtu (28/2/2026).

Pasar lokal belum mampu menggantikan peran mitra ekspor. Permintaan datang sesekali, namun jumlahnya jauh dari cukup untuk menghidupi 157 perajin yang menggantungkan penghasilan dari topi anyaman pandan.

Bagi mereka, anyaman bukan sekadar kerajinan. Itu warisan keterampilan turun-temurun sekaligus sumber nafkah keluarga. Dari hasil menjual topi, mereka membiayai sekolah anak, memenuhi kebutuhan dapur, hingga membayar listrik.

“Kekhawatiran terbesar tentu kehilangan mata pencaharian. Selama ini topi menjadi produk unggulan karena sudah masuk pasar ekspor, meskipun melalui perusahaan perantara,” ujar Adi.

Di tengah tumpukan topi yang belum terjual, para perajin tetap bekerja. Mereka juga membuat produk lain dari daun pandan, seperti, tas kaneron, sajadah, tikar, sandal, dompet, hingga tentengan.

Kreativitas tak pernah berhenti, tetapi pasar yang menyempit membuat langkah mereka terasa berat.

Adi berharap, pemerintah turun tangan membantu membuka akses pasar baru. Ia membayangkan instansi pemerintah menggunakan produk lokal atau membantu mencarikan pembeli baru agar roda ekonomi perajin kembali berputar.

Baca Juga :  Pemkab Pandeglang Harapkan Reaktivasi KA Rangkasbitung-Labuan Segera Masuk Segmen II

“Kami berharap pemerintah bisa membantu penyerapan produk, misalnya digunakan oleh instansi atau membantu mencarikan pembeli baru,” katanya.

Di rumah-rumah itu, anyaman masih terus tersusun. Harapan pun ikut terjalin di setiap simpulnya agar karya tangan warga Pandeglang tak sekadar menumpuk, tetapi kembali menemukan jalan menuju pasar, dan menjaga dapur mereka tetap menyala.

Penulis : Memed
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd