Beranda Gaya Hidup Menurut Studi Orang Berkacamata Memang Lebih Cerdas

Menurut Studi Orang Berkacamata Memang Lebih Cerdas

93
0
Ilustrasi - foto istimewa kumparan.com

Anggapan bahwa orang berkacamata adalah orang pintar akhirnya mendapat dukungan dari sisi sains. Dalam sebuah studi terbaru ditemukan bahwa ada hubungan antara penggunaan kacamata dengan kepintaran seseorang.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications itu, tim peneliti mempelajari interaksi antara gen dan fungsi kognitif. Mereka mempelajari data genetika dan kognitif dari 300.480 orang untuk menemukan apakah ada kecocokan antara gen yang berhubungan dengan kepintaran dengan gen yang berhubungan dengan kesehatan.

Mereka menganalisis 148 daerah genomik yang terhubung dengan peningkatan fungsi kognitif. Tim peneliti menemukan adanya korelasi genetika antara fungsi kognitif umum dengan beberapa masalah kesehatan. Secara khusus, mereka menemukan hubungan antara kepintaran dengan rabun jauh, begitu juga dengan kebutuhan untuk mengenakan kacamata atau lensa kontak.

Uniknya, para peneliti menemukan tidak adanya korelasi antara kepintaran dengan rabun dekat. Selain itu, mereka juga menemukan tidak adanya korelasi antara fungsi kognitif dengan beberapa penyakit jantung.

Ditemukan juga bahwa mereka dengan fungsi kognitif yang lebih baik, memiliki kemungkinan lebih rendah untuk mengalami depresi.

Namun begitu, temuan ini hanya menunjukkan adanya hubungan menarik antara masing-masing hal tersebut. Alasan mengapa hubungan ini ada, belumlah bisa dijelaskan oleh para peneliti. Yang jelas, yang perlu digarisbawahi, studi ini lebih berfokus kepada kecocokan genetika.

“Studi ini, studi fungsi kognitif genetika terbesar, telah mengidentifikasi banyak perbedaan genetika yang berkontribusi pada heritabilitas kemampuan berpikir,” ujar Gail Davis, peneliti dari University of Edinburgh sekaligus pemimpin studi, dikutip dari The Telegraph.

“Penemuan dari efek genetika ini pada kesehatan dan struktur otak memberikan landasan untuk mempelajari bagaimana suatu mekanisme mempengaruhi kemampuan berpikir sepanjang hidup seseorang,” imbuhnya. (Red)

Sumber : kumparan.com

loading...