Beranda Kampus Menunggu di Bangku Kampus, Orangtua Menitipkan Harapan di UTBK Untirta

Menunggu di Bangku Kampus, Orangtua Menitipkan Harapan di UTBK Untirta

Reni, orang tua calon mahasiswa baru Untirta saat ditemui di sela UTBK. (Audindra/bantennews)

SERANG — Pagi belum sepenuhnya terang ketika Reni sudah tiba di Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Sindangsari, Kabupaten Serang.

Jam masih menunjukkan pukul 05.45 WIB. Di sampingnya, sang putri, Najwa, bersiap menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), pintu menuju perguruan tinggi negeri yang mereka impikan.

Reni tidak sekadar mengantar. Ia memilih tinggal, duduk, dan menunggu berjam-jam di luar ruang ujian. Baginya, kehadiran adalah bentuk dukungan paling sederhana sekaligus paling berarti.

Kesempatan ini bukan yang pertama bagi Najwa. Sebelumnya, ia gagal menembus kampus impian lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Momen itu masih membekas bagi Reni.

“Dia maunya buka pengumuman sama saya. Pas lihat hasilnya merah, saya nangis. Dia awalnya ketawa, tapi akhirnya ikut nangis juga,” kenang Reni pelan saat ditemui BantenNews.co.id, Rabu (29/4/2026).

Kini, Najwa mencoba lagi. Ia mengubah arah, memilih program studi Pendidikan Bahasa Inggris dan D3 Manajemen di Untirta.

Reni tidak banyak mengatur. Ia membiarkan anaknya menentukan jalan, sambil terus memberi dorongan dari belakang.

“Yang penting dia yakin sama pilihannya. Saya ikut dukung,” ujarnya.

Pagi itu, Reni bangun sejak pukul tiga dini hari. Ia menyiapkan sarapan, memastikan semua kebutuhan anaknya siap.

Rasa lelah tidak terasa. Ia menyamakan perjuangan hari ini dengan masa ketika ia menanti kelahiran Najwa.

“Dulu nunggu dia lahir sembilan bulan saja saya jalani. Sekarang nunggu beberapa jam buat masa depannya, enggak ada apa-apanya,” katanya.

Di sudut lain kampus, cerita serupa datang dari Nana Sumarna. Ia berangkat dari Cikupa, Kabupaten Tangerang, sejak pukul 05.30 WIB.

Ia mengantar anaknya dengan sepeda motor, menembus pagi demi memastikan sang anak tidak terlambat mengikuti UTBK.

Baca Juga :  Masyarakat Peduli Lingkungan Hidup Datangi Sekolah Lantai Tanah

Sebagai sopir lepas, Nana menghentikan pekerjaannya hari itu. Ia memilih duduk menunggu, sama seperti orang tua lain yang memadati area kampus.

“Kerjaan saya liburin dulu. Ini buat anak,” ucapnya singkat.

Anaknya bermimpi melanjutkan kuliah di Semarang. Nana mungkin tidak hafal nama kampus atau jurusan yang dituju, tetapi ia memahami satu hal, mimpi anaknya harus ia jaga.

Meski mengaku sang anak lebih dekat dengan ibunya, Nana tetap ingin hadir di momen penting ini. Ia ingin anaknya tahu bahwa ia tidak berjalan sendiri.

“Harapan orangtua sederhana, anaknya sukses. Kalau belum lolos, ya tetap lanjut di tempat lain,” katanya.

Di luar ruang ujian, waktu berjalan lambat. Orangtua duduk, berdiri, berjalan mondar-mandir, sesekali melirik jam. Mereka tidak ikut mengerjakan soal, tetapi menanggung harapan yang sama besar.

Di balik layar komputer yang dihadapi para peserta UTBK, ada doa-doa yang tidak terdengar. Ada orangtua yang rela bangun dini hari, meninggalkan pekerjaan, dan menunggu tanpa kepastian hasil.

Hari itu, di kampus Untirta, UTBK bukan hanya soal ujian masuk perguruan tinggi. Ia menjadi ruang pertemuan antara perjuangan anak dan ketulusan orangtua tentang harapan yang tidak pernah berhenti diperjuangkan.

Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd