Beranda Nasional Menteri PUPR Sebut Pembangunan Bendungan Sindangheula Capai 98 Persen

Menteri PUPR Sebut Pembangunan Bendungan Sindangheula Capai 98 Persen

103
0
Bendungan Sindangheula di Kabupaten Serang - foto istimewa liputan6.com

SERANG – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa pembangunan Bendungan Sindangheula di Kabupaten Serang, saat ini dalam tahap penyelesaian akhir, dengan progres 98 persen.

Basuki mengatakan, Bendungan Sindangheula merupakan satu dari 49 bendungan baru yang dibangun Kementerian PUPR pada tahun 2015-2019, untuk mewujudkan ketahanan air dan pangan nasional.

“Ini sudah selesai, tinggal ada 20 hektare lagi di daerah genangan dan saat ini dalam tahap konsinyasi. Pak Gubernur sudah meminta ditutup (saluran pengelak) sehingga penggenangan bisa dilakukan dan semoga bisa segera dimanfaatkan untuk masyarakat,” kata Basuki, di Jakarta, Sabtu (16/3/2019).

Bendungan Sindangheula ini memiliki manfaat besar bagi masyarakat di Kabupaten Serang maupun Kota Serang, untuk irigasi di Daerah Irigasi Cibanten seluas 1.000 hektare, pengendalian banjir daerah hilir Kabupaten Serang dan Kota Serang dengan kapasitas tampung banjir 1,5 juta m3 dan akan menyuplai air baku 0,8 m3 per detik bagi Kabupaten dan Kota Serang.

Basuki pun meminta bendungan yang dibangun pada 2015 dengan anggaran sebesar Rp 432 miliar dari APBN tersebut, ke depan dapat dimanfaatkan sebagai kawasan wisata dan konservasi alam.

“Ini saya kira nanti akan jadi area wisata karena dekat sekali dengan Kota Serang. Mudah-mudahan dengan adanya tol dari Serang ke Panimbang pasti akan lebih mudah dijangkau,” tutur Basuki dikutip dari liputan6.com.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciunjung, Cidurian Tris Raditian mengatakan, Bendungan Sindangheula memiliki kapasitas tampung total sebesar 9,25 juta meter kubik dan luas genangan 115 ha.

“Bendungan ini airnya dari Sungai Cibanten. Selain untuk air baku, untuk irigasi juga untuk potensi tenaga pembangkit listrik 0,4 megawatt,” tandasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui menjaga keseimbangan harga pangan sulit. Oleh karena itu, pemerintah berusaha menjaga keseimbangan harga pangan dengan sejumlah strategi seperti membangun bendungan.

“Memang paling sulit jaga keseimbangan harga, petani senang, masyarakat senang. Menaikkan harga, naikkan saja HPP kita, harga di pasar akan terus naik, masyarakat akan rasan beban,” ujar Jokowi, Minggu (17/2/2019).

Oleh karena itu, menurut Jokowi, peran pemerintah untuk menjaga kestabilan harga pangan. “Harga stabil, stok ada, dua-duanya dapat untung,” tutur dia.

Jokowi menambahkan, untuk menjaga keseimbangan harga tersebut dengan sejumlah strategi jangka pendek, menengah hingga panjang. Salah satu strategi panjang dengan membangun bendungan. Dengan pembangunan bendungan tersebut dapat mengairi sawah.

“Kita juga memiliki strategi besar supaya rakyat bangun bendungan sebanyak-banyaknya. Kebutuhan air untuk pengairan sawah suplai 11 persen. 49 waduk, suplai 20 persen dari kebutuhan yang ada,” tutur dia.

Jokowi mencontohkan, bendungan yang dibangun di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengairi sawah sehingga meningkatkan produksi. Jokowi menuturkan, pihaknya sudah membangun tujuh bendungan di NTT. “Karena di NTT  tanpa air, tanpa air tidak bisa tanam,” kata dia. (Red)