Beranda Opini Menggantang Peluang Larangan Mudik

Menggantang Peluang Larangan Mudik

Ilustrasi - foto istimewa brilio.net

Oleh : Habibah Auni, Mahasiswa S1 Program Studi Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada

Virus Covid-19, hentakan sejengkal kakinya menggema ke seluruh penjuru negeri. Benar saja, baru segenap satu bulan, pandemi virus Covid-19 atau corona sudah menggurita di nusantara. Berdasarkan data pemerintah pusat, total ada 1.528 kasus positif corona dengan 136 pasien corona meninggal dunia, terhitung per Selasa (31/2/2020). Dan jumlah kasus ini sudah tersebar di 32 provinsi.

Tentu saja lonjakan kasus corona ditanggapi masyarakat dengan rasa panik. Tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk balik ke kampung halamannya. Sebagai langkah mencari peruntungan di rumah asal, begitu pikir mereka. Sebab, pulang ke kampung halaman atau mudik merupakan langkah jitu untuk bertahan hidup. Menjalani hidup bersama keluarga besar dengan kebutuhan makanan yang memadai, sungguh menjawab segala ketakutan. Bagaimana tidak? krisis bahan pokok makanan akibat wabah corona sungguh menakutkan.

Faktanya, sudah banyak masyarakat, terutama jabodetabek “mencuri start” mudik. Presiden Jokowi sendiri mengakui bahwa dalam laporan 8 hari terakhir, sudah ada 14 ribu masyarakat jabodetabek yang mudik. Yang dikhawatirkan dari klaster masyarakat ini adalah jalur utama yang mereka lintasi. Jakarta, yang notabenenya adalah arus utama perjalanan klaster jabodetabek, merupakan episentrum virus corona di tanah air.

Lantas, fenomena mudik yang tengah membanjiri Indonesia, mengundang segudang perhatian berbagai pihak. Sudah banyak yang meminta pemerintah pusat untuk tegas melarang mudik, mengingat ia merupakan cabang permasalahan dari ketidakpastian lockdown. Yang sejauh ini, pemerintah hanya bisa mengimbau masyarakat untuk menunda mudik. Padahal, cara terbaik untuk memutus mata rantai penularan corona adalah dengan tidak mudik, bilamana merujuk kepada UU No. 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan.

Sisi Lain Larangan Mudik

Wajar saja jika pemerintah pusat mengambil langkah larangan mudik dengan hati-hati. Mengingat posisi larangan mudik yang bagaikan dua sisi mata pisau. Efek kemandegan ekonomi ibu kota imbas larangan mudik sangat mencekam negara. Belum lagi dengan aspek psikologis masyarakat, aspek kesehatan, dan pertimbangan lainnya. Kendati demikian, terdapat benang merah dari segala musabab yang dikhawatirkan ini. Bahwa ledakan mudik yang tengah dijalani sebagian besar masyarakat, tidak dilakukan atas faktor budaya.

Istilah mudik kembali dipopulerkan pada 1970-an, ditandai dengan berhimpun orang dari desa menuju Jakarta untuk mencari pekerjaan dan mengubah nasib. Sehingga kota (jabodetabek), bagi para pemudik adalah tempat persinggahan. Rumah yang sebenarnya tetap lah tempat asal si pemudik. Alhasil, intensitas kepedulian antar sesama di kota cenderung sangat kurang. Dan imbasnya, tercipta keretakan budaya yang selama ini mengakar kuat di tubuh masyarakat.

Maka, setali tiga uang dengan Arribathi dan Aini (2018), mudik merupakan tradisi yang dilakukan karena motivasi kultural, salah satunya keharusan untuk mengunjungi orang tua dan keluarga. Dan secara moral, mudik memiliki makna kolektivisme, kejujuran, dan peduli terhadap sesama manusia, yang ditunjukkan dengan momen silaturahmi. Dengan kata lain, mudik memperkuat humanisme seorang manusia.

Kendati demikian, mudik yang kini dilakukan oleh masyarakat bukan sebuah cerminan dari kebudayaan. Masyarakat melakukan mudik atas rasa kepanikan yang tiada kentara. Selagi pemudik menjelajah antar daerah, wilayah, atau bahkan pulau, mereka luput dari kenyataan akan potensi virus corona yang dibawa. Skenario terburuk yang ditakutkan bisa saja sewaktu-waktu terjadi, sebagaimana yang melanda di Itali.

Memanfaatkan Peluang

Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh lapisan masyarakat untuk menimbang kembali niatnya untuk mudik. Pun dengan pemerintah, untuk segera mengambil langkah konkrit atas larangan mudik. Tindakan ini bisa saja diambil bilamana kedua belah pihak sama-sama memikirkan faktor budaya dari mudik. Dengan kata lain, memperkuat asas kebudayaan di tengah pandemi corona.

Hal semestinya yang perlu dihidupkan dari mudik bukan sekedar “tindakan”, namun “substansi” yang terkandung di dalamnya. Substansi kultural yang menegaskan kalau mudik ditujukan untuk memperkuat humanisme. Sebagaimana Socrates, seorang filsuf terkemuka, yang berucap bahwa hidup seharusnya direfleksikan. Peristiwa bencana kemanusiaan laiknya corona, sudah sepatutnya direfleksikan sebagai misi untuk menolong sesama. Dalam kasus corona, cara tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi intensitas bertemu orang lain.

Kemudian, peluang selanjutnya adalah menyalakan aktivisme mudik di ruang digital. Dengan teknologi yang sudah semakin maju, komunikasi jarak jauh dapat diberdayakan sebagai ajang silaturahmi. Seperti Kuwait yang tahun ini sudah meluncurkan grup ibadah online. Sebab, apa yang terpenting dari mudik, baik untuk Ramadhan atau pun lebaran adalah membawa rasa kebersamaan yang istimewa. Semoga tidak membawa wabah corona!

(***)

Temukan Berita BantenNews.co.id di Google News