Beranda Sosial dan Budaya Mengenal Tradisi Undun-undunan di Bojonegara

Mengenal Tradisi Undun-undunan di Bojonegara

Tradisi Udun-udunan di Kabupaten Serang. (Foto : ade/bantennews)

SERANG – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya modern, warga Kampung Legon Asem, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang-Banten  ternyata masih mempertahankan tradisi leluhur Banten berupa tradisi undun-undunan hasil akulturasi agama Hindu dan Islam.

Pelaksanaan adat undun-undunan rutin diadakan pada acara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjadi momen paling ditunggu-tunggu anak-anak ataupun orang tua. Sebab, anak-anak bisa sepuasnya berebut saweran uang receh dan makanan serta batang tebu secara gratis.

Tokoh Masyarakat sekaligus Ketua DKM Masjid Al-Mu’min Kampung Legon Asem, Jahidi mengatakan, tradis undun-undunan ini merupakan selamatan sekaligus syukuran bagi anak bayi yang berusia dari enam bulan hingga dua tahun. Dalam undun-undunan ini, anak yang ikut tradisi undun-undunan dibacakan selawat nabi sambil diiringi tabuhan alat musik rebana atau rudat.





Asal-usul adat undun-undunan ini sendiri terlahir dari hasil akulturasi agama Hindu dan Islam. Namun seiring dengan masuknya agama Islam  tradisi ini kemudian menjadi adat yang tetap dipertahankan warga sudah memeluk agama islam karena dinilai adat positif dalam mendekatkan anak kepada tuhan.

“Adat undun-undunan asli Bojonegara ini diperkirakan sudah ada sekitar sejak agama Hindu dan Budha hadir di Indonesia,” ujarnya, Senin (3/12/2018).

Dalam tradisi atau adat ini, lanjut Jahidi, anak bayi laki-laki atau perempuan yang dipegang seorang ustad atau kasepuhan kampung terlebih dahulu akan diajak berputar-putar atau berkeliling dan juga diajak menaiki rangka masjid dan rumah yang terbuat dari pohon tebu.

“Pohon tebu ini dijadikan sebagai simbol atau sarana orang tua pertama kali mengenalkan anak bayi berjalan di atas tanah. Selain itu, undun-undunan ini juga ditujukan sebagai sebuah harapan bagi setiap orang tua agar saat anak yang tumbuh dewasa kelak lebih dekat mengenal Tuhan dengan cara mendekati masjid,” ucapnya. (Dhe/Red)