Beranda Kesehatan Mengenal Pelayanan Okupasi Terapi pada Anak Berkebutuhan Khusus

Mengenal Pelayanan Okupasi Terapi pada Anak Berkebutuhan Khusus

227
0
Foto istimewa
SERANG – Klinik Tumbuh Kembang Anak di sejumlah rumah sakit di Provinsi Banten memiliki fasilitas okupasi terapi anak. Terapis anak dan pasien dewasa dari Klinik Utama Ratu Farma, Kota Serang Atika Dewi Rimadhani mengatakan okupasi terapi merupakan jenis terapi yang terarah bagi pasien fisik maupun mental (dewasa dan anak) dengan menggunakan aktivitas sebagai media terapi.

Terapi okupasi juga bisa disebut sebagai metode terapi pasca pengobatan. Dengan cara ini, pengidap suatu gangguan kesehatan akan menjalanin proses terapis atau dilatih untuk lebih mandiri dalam menjalani aktivitas keseharian.

Dikatakan Atika, pasien yang ditangani oleh okupasi terapis adalah pasien dewasa dengan masalah pada fisik atau kejiwaan, pasien anak berkebutuhan khusus / anak-anak dengan masalah keterlambatan dan gangguan perkembangan.

Atika menjelaskan okupasi terapi pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau anak–anak dengan masalah keterlambatan dan gangguan perkembangan yaitu dengan memberikan rangkaian jenis terapi kepada anak. Hal ini untuk mengoptimalisasi proses tumbuh kembangnya baik dari segi motorik, sensorik, kognitif, perilaku, dan komunikasi.

“Tujuannya anak mampu melakukan perannya secara optimal di dalam aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, berpakaian dan kegiatan lain sesuai dengan usia perkembangan anak,” kata Atika dalam keterangannya, Senin (10/2/2020).

Ada Beberapa metode yang digunakan okupasi terapis. Pertama, terapi sensori integrasi. Ini adalah terapi yang membantu proses mengenal, mengubah, dan membedakan sensasi dari system sensori menjadi respon berupa perilaku adaptif. Terapi ini dapat meningkatkan kemampuan anak seperti koordinasi gerak tubuh, kemampuan motorik kasar dan halus, dan kemampuan mepertahankan atensi dan konsentrasi.

Kedua, terapi perilaku atau behavior therapy. Terapi ini diberikan kepada anak yang memiliki perilaku yang kurang baik, seperti tantrum (menangis histeris dan menyakiti diri), anak yang sering memukul, dsb.

Ketiga, Remedial therapy, terapi untuk melatih kemampuan akademik di sekolah. Remedia therapy melatih kemampuan  akademik pada anak-anak yang memiliki gangguan belajar seperti gangguan membaca (disleksia), gangguan menulis (disgrafia), gangguan berhitung (diskalkulia)

Keempat, terapi snoezelen. Ini adalah merupakan tekhnik relaksasi bagi anak dengan hiper dan hipo sensitifitas pada aspek visualisasi, auditory, dan rangsang raba serta bagi anak dengan kesulitan pemusatan perhatian.

Namun, sebelum diputuskan mendapatkan terapi okupasi, dokter biasanya akan mengidentifikasi dahulu sejauh mana kesulitan pengidap dalam menjalani kegiatan sehari-hari, seperti misalnya memakai pakaian atau pergi ke luar rumah sendiri. Pada dasarnya, terapi okupasi ini dilakukan untuk memberikan solusi untuk kesulitan-kesulitan yang mungkin akan dialami, pasca mengidap suatu gangguan kesehatan.

Atika menjelaskan, terapi okupasi biasanya diperlukan untuk orang yang mengidap gangguan kesehatan seperti orang-orang yang sedang menjalani pemulihan dan kembali bekerja setelah mengalami cedera yang berhubungan dengan pekerjaan mereka.

“Mereka yang mengidap gangguan mental dan fisik sejak lahir. Mereka yang secara tiba-tiba menderita kondisi kesehatan serius, seperti stroke, serangan jantung, cedera otak, atau amputasi. Biasanya terapi okupasi juga diberikan bagi pengidap kesehatan mental atau masalah perilaku, seperti penyakit Alzheimer, stres pascatrauma, penyalahgunaan obat-obatan, atau gangguan makan dan mereka yang mengalami ketidakmampuan belajar atau mengalami perkembangan yang tidak normal,” terangnya.

Selain itu, terapi okupasi juga biasa diberikan pada anak-anak yang mengidap kondisi tertentu, seperti Sindrom Down, Cerebral palsy, Dispraksia dan Ketidakmampuan belajar.

(Red)