Beranda Kesehatan Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Mematikan dari Infeksi Virus Corona

Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Mematikan dari Infeksi Virus Corona

614
0
Ilustrasi - foto istimewa kompas.com

SERANG – Pada titik ini, Covid-19 lebih dari sekadar penyakit yang menyerang pernapasan. Berbagai fakta baru mengenai virus tersebut mulai terungkap, salah satunya adalah kemunculan happy hypoxia. Sejumlah pasien Covid-19 di Indonesia memiliki gejala ini dan dinyatakan meninggal dunia.

Dikutip dari laman Medical News Today, happy hypoxia merupakan kondisi penurunan tekanan parsial oksigen dalam darah. Kondisi tersebut membuat seseorang mengalami masalah dalam pernapasan seperti sesak napas, yang disebut pula sebagai dispnea.

Happy hypoxia adalah kondisi yang berbahaya. Jika kadar oksigen dalam darah terus menurun, organ-organ kemungkinan akan berhenti bekerja dan mengancam nyawa pasien.



Studi terbaru dari Loyola University Health System, yang ditulis Medical News Today mengungkapkan fakta bahwa pengidap Covid-19 yang mengalami gejala happy hypoxia tidak menyadari bahwa tubuh mereka kekurangan oksigen dan masih dapat berkegiatan tanpa masalah.
Menurut penulis penelitian ini, kondisi tersebut sangat membingungkan para dokter dan dianggap bertentangan dengan biologi dasar.

Dilansir dari healthing.ca, seorang ahli intervensi paru dr. Udit Chadda mengatakan, waktu terburuk untuk happy hypoxia pada pasien Covid-19 adalah sekitar hari ke-10 infeksi. Para pengidap biasanya mengalami sesak napas atau tanda-tanda lain sebelum sesak napas yang seharusnya mendorong mereka untuk mencari perawatan medis.

Mengingat bahaya happy hypoxia bila tidak segera ditangani, penting bagi pengidap Covid-19 untuk mewaspai kondisi tersebut. Dikutip dari Grid Health, Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto mengatakan bahwa happy hypoxia bisa dicegah dengan melakukan deteksi dini.
Deteksi dini atau pemeriksaan kadar oksigen bisa dilakukan di fasilitas layanan kesehatan, dan juga dilakukan secara mandiri sendiri.

Dijelaskan Agus, hipoksemia dapat diukur dengan cara sederhana yaitu lewat pemeriksaan oksimetri. Oksimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah tubuh (pemeriksaan oksimetri) lewat ujung jari tangan. Alat tersebut cukup ditempelkan dengan jari tangan dan dinyalakan pemeriksaannya. Secara otomatis akan keluar saturasi kadar oksigen di dalam darah kita.
Jika hasil saturasinya menujukkan angka 95 ke atas, maka tidak ada hipoksemia.Sebaliknya jika saturasinya menunjukkan angka 94 atau di bawahnya, maka terjadi hipoksemia atau kekurangan kadar oksigen di dalam darah tubuh.

Cara sederhana ini, kata Agus, bisa berlaku untuk orang yang sehat, maupun pasien terinfeksi positif Covid-19 yang tidak memiliki gejala (Afifah/mg/red)