Beranda Opini Mengarang

Mengarang

Oleh : Arip Senjaya,                                  Pengajar filsafat di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

DI ANTARA begitu banyak kesibukan saya yang tak seberapa, sebenarnya hanya mengarang yang saya suka. Mengarang itu sebuah jalan tengah antara realitas nyata dan realitas mimpi. Kalau dalam keadaan sadar saya bisa menciptakan mimpi, itulah mengarang.

Kalau mimpi biasa menciptakan kejut, mengarang juga sama. Mimpi yang tidak seberapa kejut sama dengan karangan biasa-biasa saja. Begitu banyak persamaan tapi begitu sedikit perbedaan. Perbedaan yang sudah jelas adalah bahwa mimpi terjadi saat tidur, sedangkan mengarang adalah saat terjaga jiwa raga.





Saya percaya kejut itu penting buat hidup, karena itu berbagai pengobatan menggunakan sengatan listrik agar tubuh dan jiwa terkejut. Konon orang pingsan bisa dibangunkan oleh sengatan listrik. Pingsan itu sama dengan tidur. Maka kejut itu mempertemukan alam nyata dan alam mimpi, alam sadar dan alam tak sadar, seperti jembatan mempertemukan dua batas negara.

Perlu juga diperhatikan bahwa mimpi pun dikendalikan oleh kesadaran tertentu. Tanpa kesadaran tertentu, mimpi tak akan punya struktur alur, atau latar tertentu, atau tokoh-tokoh yang punya kesamaan ciri tertentu dengan tokoh-tokoh di alam nyata. Maka kesadaran adalah syarat mutlak bagi keduanya.

Saya percaya orang gila sudah tidak bermimpi karena otak mereka sudah dimakan anak-anak kecoa atau makhluk lain yang lebih kecil. Dan orang waras yang sudah tidak lagi bermimpi, mestilah mengarang untuk tetap mempertahankan kewarasan. (Red)