Beranda Opini Mengapa Kita Lebih Percaya Berita Hoax Disaat Masa Pandemik

Mengapa Kita Lebih Percaya Berita Hoax Disaat Masa Pandemik

530
0
Ilustrasi - foto istimewa liputan6.com

Oleh : Dewi Ulfah Arini, S.Psi, MM, Psikolog,D Fakultas Ekonomi Akuntansi Universitas Pamulang

 

Ditengah pandemi Covid 19 yang makin merebak ini, masyarakat dipaksa untuk bersikap positif dan mengerti bahwa kondisi ini membutuhkan waktu lama dalam proses penyelesaiannya. Pemerintah, baik pusat dan daerah sudah melakukan berbagai cara dalam mengantisipasi kondisi kisruhnya perkembangan terutama informasi yang berkembang dimasyarakat.

Disini, pemerintah cukup sigap dengan membatasi informasi untuk menghindari konflik dan kekisruhan yang bisa mempengaruhi stabilitas dan kenyamanan warganya. Apalagi, berita-berita yang bermunculan dan hilir mudik di media sosial yang tidak berdasar seringkali dilakukan oleh sebagian oknum – saya mengatakan oknum karena mereka sudah memiliiki tujuan tersendiri – agar pembaca percaya dan mengikuti harapannya. Padahal, berita-berita Hoax/bohong dapat merusak pertemanan atau tatanan kehidupan yang sudah ada sebelumnya.

Banyaknya, ragam informasi di dalam media sosial yang hilir mudik dan tidak tersaring menyebabkan permasalahan baru. Mengapa masyarakat kita sangat percaya dengan berita-berita yang tidak berdasar dan segera menyetujui dengan langsung membagikan kepada orang lain tanpa memilah terlebih dahulu? Ini adalah pertanyaan yang sering diajukan oleh beberapa peneliti, apakah karena tipikal bangsa kita yang suka dengan berita-berita heboh atau pendidikan sebagian warga kita yang belum tinggi sehingga mudah sekali menerima berita itu dengan cepat tanpa melakukan klairifikasi terlebih dahulu, atau memang karakter dasar kita yang lebih suka pemberitaan negatif karena dari dulu kita selalu di cekoki dengan berita negatif atau takhyul tanpa berdasar dari pendahulu kita.

Secara psikologis, Pada dasarnya manusia itu lebih suka untuk mencari kesenangan dan menghindari kesulitan. Karena itu, ketika ada berita-berita tentang bagaimana cara membuat cairan desinfektan, proses sosialisasi PSBB dan penanganan covid 19 itu sendiri kita sangat mudah terbawa. Lalu, kita lebih senang untuk membaca berita yang disukai dan diminatinya saja daripada harus bersusah payah untuk mencari kebenaran dari situasi tersebut.

Broadcast tentang mencuci semua bahan makanan dengan menggunakan cairan desinfektan dengan kandungan yang berbahaya, ini bisa saja diikuti oleh orang-orang karena khawatir makanan yang dimakan terpapar virus corona sehingga berfikir jika dicuci oleh desinefekatan akan aman. Padahal justru hal ini dapat mempengaruhi kesehatannya kemudian. Bahkan, yang terburuk adalah berita bahwa virus corona akan mati ketika kita berjemur dibawah terik matahari. Maka berbondong-bondonglah orang untuk berjemur tanpa mengindahkan prosedur kesehatan karena pada intinya manusia kahawatir dan takut hal buruk menimpanya dan berfikir pendek agar terbebas dari rasa khawatir itu.

Selain itu, tipikal masyarakat yang kurang bersedia melakukan cross check berita dan langsung membagikan karena kita terlalu mudah percaya pada hal-hal yang memiliki keyakinan atau bentuk emosional yang sama dengan kita alami. Apalagi jika berita itu terus berseliweran di timeline atau media sosial kita maka secara bawah sadar kita mempercayai bahwa informasi ini benar. Terlebih, jika berita tersebut diberikan oleh orang yang cukup kita kagumi maka apa yang disampaikan adalah benar tanpa cek lebih lanjut kebenarannya. Apapun yang disampaikan akan ditelan mentah-mentah.

Masyarakat kita yang memiliki keberagaman pemahaman seringkali mengalami kendala dalam memahami satu infromasi dalam bentuk Satir atau hoax/berita bohong. Berita Satir adalah bentuk sindiran terhadap satu keadaan atau seseorang, dimana satir disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme atau parodi. Sayangnya, kita masih banyak yang belum paham ini satir atau hoax sehingga kesalahpahaman dan konflik seringkali muncul hanya karena sulit membedakan antara berita satir dan hoax/berita bohong.

Selain itu, warga kita dengan karakter emosi yang mudah tergugah akan langsung bertindak sesuai dengan berita yang mereka baca. Oleh karena itu, seorang penulis akan membuat tulisan yang bombastis dan menguras emosi agar pembaca akan terluapkan emosi dan segera langsung bertindak tanpa memikirkan dampak kedepan. Ditambah dengan budaya kita yang saling membantu dan bergotong royong menyebabkan kita langsung membagikan dan memberikan like sebagai bentuk dukungan pada berita tersebut. Padahal kita tidak tahu kebenaran akan berita tersebut. Secara natural, perasaan positif akan timbul pada individu ketika ada afirmasi yang dipercaya. Perasaan terafimasi ini menjadi pemicu dar individu untuk meneruskan informasi hoax ke pihak lain.

Pendeknya, Kita sering menganggap diri sebagai makhluk rasional, pada kenyataannya banyak dari tindakan kita yang sangat dipengaruhi oleh emosi. Oleh sebab itu, kita seringkali mendapatkan peringatan untuk lebih berhati-hati , cerdas dan teliti dalam membaca dan menyebarkan satu infromasi kepada oranglain untuk menghindari berita-berita bohong/hoax yang makin merajalela dan tak terhentikan. Selain itu, pengetahuan dan wawasan kita yang perlu ditingkatkan kembali agar kita tidak mudah terbawa dan menelan mentah-mentah informasi apalagi tanpa disertai oleh sumber yang akurat. Cirri utama dari berita hoax adalah tidak memiliki sumber yang jelas, kita diminta untuk menyebarkan dan informasinya terlihat aneh untuk dijadikan kenyataan.

Karena itu, segaralah untuk mencari kebenaran informasi yang ada dan ketika hal tersebut bersifat negatif dan membuat kita cemas maka tidak perlu untuk dibaca. Yang perlu ditanamkan dalam diri adalah ketika menyebarkan berita hoax adalah tidak benar dan memalukan diri karena kita sendiri tidak tahu ini benar atau salah. Karena itu, bijaklah untuk setiap bacaan disosmed dengan berfikir jernih dan tidak mengandalkan emosi dengan menggali kebenaran pada informasi tersebut. Selain wawasan makin berkembang kita juga bisa memilah mana bacaan yang baik dan tidak untuk kita.

(**)