Seri Evaluasi 17 Program Unggulan Wali Kota di Tahun Pertama Pemerintahan
Oleh : Fauzi Sanusi
Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Program menciptakan 5.000 wirausaha baru merupakan salah satu janji politik unggulan Pemerintah Kota Cilegon di bawah kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Robinsar–Fajar. Secara politik, janji ini mudah dipahami dan menarik. Di tengah tingginya pengangguran dan ketimpangan struktur ekonomi kota industri, kewirausahaan diproyeksikan sebagai solusi cepat untuk menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi rakyat, dan menumbuhkan kemandirian usaha.
Namun kebijakan publik tidak cukup dinilai dari niat dan narasi saja. Ia harus diuji mulai dari ketepatan konsep, strategi implementasi, sampai dengan keberlanjutan usahanya. Di titik inilah program 5.000 wirausaha baru penting untuk dibaca ulang secara kritis.
Antara Target Angka dan Substansi Kebijakan
Target “5.000” adalah kekuatan sekaligus kelemahan. Dikatakan kuat karena dapat dicirikan sebagai ambisi dan komitmen, tetapi lemah jika dijadikan sebagai tujuan akhir. Ketika hanya angka atau kuantitatif menjadi target akhir, kebijakan cenderung bergeser dari pembangunan ekosistem ekonomi menjadi pencapaian administratif yaitu berapa orang menerima bantuan, berapa usaha tercatat, berapa proposal disetujui.
Masalahnya, wirausaha bukan status administratif, akan tetapi proses ekonomi yang panjang. Usaha yang dibuka hari ini tetapi tutup dalam waktu tiga sampai enam bulan kemudian tetap akan dihitung sebagai “wirausaha baru” dalam statistik, namun secara substansi gagal total dalam perspektif pembangunan. Tanpa indikator keberlanjutan seperti tingkat daya saing, kenaikan omzet, penciptaan peluang kerja, atau integrasi pasar, angka 5.000 berisiko menjadi klaim politis tanpa makna secara ekonomi.
Wirausaha atau Usaha Bertahan Hidup?
Kritik paling mendasar terhadap program ini adalah kaburnya batas antara wirausaha berbasis peluang (opportunity-based) dan usaha berbasis keterpaksaan (necessity-based). Dalam realitas sosial Cilegon, banyak usaha mikro lahir karena dorongan bertahan hidup karena sulitnya akses kerja formal, tekanan ekonomi keluarga, dan kebutuhan pendapatan harian.
Usaha seperti ini penting secara sosial—sebagai jaring pengaman ekonomi—namun keliru jika langsung diposisikan sebagai mesin pertumbuhan. Tanpa strategi naik kelas, usaha bertahan hidup cenderung berputar di lingkaran sempit seperti konsep daur hidup produk: buka usaha (introduction), tumbuh sebentar (Growth), kedewasaan (Maturity), Penurunan (Decline), lalu berhenti. Banyak kasus UMKM tidak mencapai pertumbuhan apalagi kedewasaan. Hari ini diciptakan, kemudian tumbuh dan enam bulan kemudian langsung tutup. Jika program 5.000 wirausaha baru lebih banyak melahirkan usaha jenis ini, maka yang tercipta bukan transformasi ekonomi, melainkan reproduksi kerentanan dalam bentuk usaha kecil.
Modal Bukan Obat Mujarab
Pendekatan utama program ini adalah pemberian pinjaman modal usaha mikro. Logikanya sederhana: ada modal, maka usaha berjalan. Sayangnya, logika ini terlalu menyederhanakan, kalau tidak boleh dibilang mencederai, konsep kewirausahaan. Berbagai kajian menunjukkan bahwa kegagalan usaha kecil jarang disebabkan semata oleh kekurangan modal. Faktor penentu justru terletak pada akses pasar, jejaring, manajemen risiko, dan kepercayaan diri pelaku usaha terhadap masa depan usahanya.
Ironisnya, ketika pelaku usaha mulai memahami realitas pasar melalui pelatihan atau pengalaman lapangan, banyak yang justru menyadari adanya batas struktural yang sulit ditembus. Inilah glass ceiling usaha kecil. Dalam kondisi ini, modal tambahan bukan solusi, melainkan penunda kegagalan.
Kota Industri, UMKM, dan Jalur yang Terputus
Sebagai kota industri besar, Cilegon seharusnya memiliki keunggulan dalam membangun kewirausahaan produktif. Namun faktanya, keterkaitan antara industri besar dan usaha kecil lokal masih lemah. UMKM mayoritas bergerak di sektor konsumsi lokal dengan pasar terbatas, bukan sebagai bagian dari rantai pasok industri.
Tanpa kurasi usaha berbasis kebutuhan industri, inkubasi yang serius, dan integrasi pasar, menciptakan ribuan usaha baru hanya akan memperluas sektor informal. Program kewirausahaan di kota industri tidak cukup menjadi kebijakan sosial; ia harus menjadi strategi ekonomi yang terhubung dengan struktur industri.
Persoalan Inti: Keberlanjutan dan Self-Efficacy
Banyak usaha kecil berhenti bukan karena bangkrut secara finansial, tetapi karena pelakunya kehilangan keyakinan bahwa usahanya layak diperjuangkan. Kepercayaan diri (self-efficacy) ini tumbuh jika pelaku:
• melihat contoh sukses yang nyata dan dekat,
• merasa didukung oleh sistem, bukan berjalan sendiri,
• dan melihat jalur pertumbuhan yang masuk akal.
Tanpa itu, program kewirausahaan hanya akan melahirkan episode-episode usaha singkat, bukan perjalanan wirausaha yang berkelanjutan.
Evaluasi yang Jujur dan Konstruktif
Membaca ulang program 5.000 wirausaha baru bukan berarti menolak kewirausahaan sebagai solusi. Justru sebaliknya, ini adalah upaya mengembalikan kebijakan ke rel yang lebih jujur dan efektif. Pemerintah Kota Cilegon perlu tegas memisahkan:
• kebijakan sosial berbasis usaha kecil (dengan indikator ketahanan ekonomi keluarga), dan
• strategi ekonomi produktif (dengan indikator keberlanjutan, produktivitas, dan nilai tambah).
Mencampuradukkan keduanya hanya akan menghasilkan klaim keberhasilan yang rapuh.
Penutup
Program 5.000 wirausaha baru adalah narasi politik yang ambisius. Namun ambisi hanya bermakna jika berpijak pada realitas ekosistem usaha kecil. Tanpa pergeseran paradigma—dari sekadar memberi modal menuju membangun ekosistem—Cilegon berisiko menghasilkan banyak “pengusaha semu”, tetapi sedikit wirausaha yang benar-benar tumbuh.
Membaca ulang program ini bukan soal menyalahkan, melainkan memastikan bahwa janji besar tidak berhenti sebagai angka, tetapi menjelma menjadi fondasi ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Saya percaya program ini akan berhasil melalui berbagai revisi konsep, memperbaharui paradigma dan ketepatan dalam strategi implementasi, karena latar belakang dua orang muda yang sedang berkuasa ini datang dengan DNA Wirausaha. Kecuali memang hanya sekadar bernarasi untuk meraih kursi.
