Beranda Politik Memaafkan Zaky, Jokowi Punya Visi untuk Millenial

Memaafkan Zaky, Jokowi Punya Visi untuk Millenial

201
0
(Foto: Joglosemarnews.com)

JAKARTA – Jokowi memaafkan CEO Bukalapak Achmad Zaky terkait pernyataanya yang viral di dunia maya. Pengamat komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing memuji Jokowi sebagai negarawan.

Jokowi, kata Emrus, mempunyai visi untuk milenial. Termasuk meyakini kaum milenial harus dipersiapkan masa depannya sejak saat ini. Dalam konteks pertemuan Presiden Jokowi dengan Zaky, dia berpendapat, Jokowi secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa anak muda bisa saja melakukan kesalahan, namun seorang senior harus bisa membantu untuk mengarahkan ke hal positif.

“Presiden Joko Widodo bervisi masa depan, bukan politik praktis. Harus kita budayakan hal-hal seperti ini. Tidak lalu memperbicangkan sesuatu yang jusrtru memperuncing persoalan,” kata Emrus di Jakarta hari ini.

CEO Bukalapak Achmad Zaky, dua hari belakangan menjadi pusat pembicaraan di dunia maya. Tagar UninstallBukaLapak ramai diperbincangkan di linimasa Twitter pasca Zaky mem-posting cuitan yang menyinggung soal “presiden baru”.

Zaky mengkritik anggaran untuk riset dan pengembangan atau research and development (R&D) yang dinilainya masih kecil. Dia juga memaparkan data pada tahun 2016 yang menunjukkan anggaran R&D Indonesia tertinggal dari negara lainnya. “Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin,” tulis Zaky dalam cuitan yang sudah dihapus itu.

Emrus menjelasan, pertemuan Zaky dengan Presiden Jokowi hari ini merupakan sesuatu yang positif untuk meredakan kegaduhan akibat cuitan Zaky. “Karena memang mereka ini relasinya sangat baik selama ini. Dan Pak Jokowi termasuk yang mensuport penuh usaha-usaha kaum milenial, termasuk Bukalapak ini. Presiden sangat konsern terhadap kemajuan kaum milenal dan beliau sangat mengapresiasi usaha-usaha kaum muda,” bebernya.

“Pertemuan yang dilakukan itu menunjukkan bahwa Presiden Jokowi adalah seorang negarawan. Tidak terkecoh oleh kritikan yang ada di ruang publik terhadap Zaky. Tetapi justru memberikan kesempatan dan menerima permohonan maaf sekaligus dialog. Inilah bukti bahwa Jokowi negarawan, tidak hanyut di dalam arus kritikan. Jokowi membuat solusi-solusi dalam bentuk dialog, suatu yang bagus.

“Terlepas dari itu, kalo saya melihat pandangan Zaki, saya pikir bukan sesuatu yang perlu untuk diperbincangkan dengan tidak produktif (tidak perlu dibesar2kan) karena saya melihat kalim=at yang dikemukakan sebagai suatu masukan bagi pemerintah maupun pemerintah yang akan datang.

“Artinya apa, bahwa Zaki memberikan pandangan yang sifatnya netral yaitu siapa pun yang berkuasa, termasuk Jokowi di periode kedua. Nah saya kira masukan itu masih konstruktif, tetapi dengan kritikan2 dari masyarakat saya kira mendorong atau menyebabkan adanya pertemuan antara Zaki dan Jokowi. Ini merupakan sesuatu yang perlu kita apresiasi”

“Nah ketika ada permasalahan yang sfatnya mis anderstanding atau miss comunication selesai juga dengan saling bertukar pesan melalui proses komunikasi. Karena ini hanya persoalan komunikasi yaitu pada level missunderstanding atau misscomunication ya tentu diselesaikan dengan komunikasi. Artinya pertemuan suatu hal yang baik dan saya pikir Jokowi termasuk tokoh yang memperhatikan bagaimana kaum milenial ini bisa berperan aktif di dalam mengisi pembangunan kita”. (Red)