Beranda Bisnis Melihat Proses Pembuatan Batu Bata Merah di Cilegon, Tetap Eksis Meski Pandemi

Melihat Proses Pembuatan Batu Bata Merah di Cilegon, Tetap Eksis Meski Pandemi

Proses pembuatan batu bata merah di Kota Cilegon - (Nindia/BantenNews.co.id)

CILEGON – Ditengah maraknya inovasi bata hebel atau yang biasa disebut sebagai bata ringan, bisnis batu bata merah yang menguntungkan masih eksis hingga sekarang, dikarenakan batu bata merah masih menjadi salah satu unsur penting dalam pembuatan sebuah bangunan.

Desa Bulakan, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon menjadi salah satu sentra industri batu bata merah yang sudah berdiri selama belasan tahun. Bila sedang berkunjung ke daerah tersebut, bisa melihat banyaknya tumpukan ribuan batu bata merah yang berada di Lio (bangunan tradisional untuk pembuatan batu bata dan menaruh tanah liat).

Batu Bata Merah Produk Warga Cilegon (Nindia/BantenNews.co.id)

Bahan baku untuk membuatnya yaitu tanah liat yang didapat dari daerah sekitar Desa Bulakan. Proses pembuatan batu bata merah pun cukup sederhana. Prosesnya dimulai dengan mengaduk tanah, mencetak, menjemur lalu membakar batu bata.





Banyaknya Lio yang berjejer di sepanjang jalan Desa Bulakan menandakan bahwa aktivitas industri batu bata ini menjadi salah satu yang membantu perekonomian masyarakat Desa Bulakan dan sekitarnya.

Asmiri (19) salah satu buruh di industri batu bata yang sudah bekerja kurang lebih 2 tahun mengaku bisa memproduksi ratusan hingga puluhan ribu bata merah per harinya.

“Tergantung persediaan lemah (tanah), kalau tanahnya banyak ya bisa banyak. Sehari dua puluh ribuan bata,” ujar Asmiri pada BantenNews.co.id, Selasa (23/2/2021).

Lokasi produksi Batu Bata di Cilegon – (Nindia/BantenNews.co.id)

Asmiri yang bekerja sebagai kuli angkut dan bertugas untuk menjemur batu bata tidak bekerja sendirian, ia ditemani oleh tiga rekannya. Tiga rekannya tersebut memiliki tugasnya masing-masing sebagai pembuat adonan, pencetak bata, dan kuli angkut.

Lempung atau tanah liat yang sudah diaduk lalu diproses ke mesin cetak bata merah. Setelah proses pencetakan, dilanjutkan dengan proses penjemuran menggunakan sinar matahari. Untuk waktu penjemuran batu bata biasanya memakan waktu sekitar 1-2 bulan.

“Pernah gagal ngebata (membuat batu bata-red) karena cuaca. Apalagi musim hujan begini susah dan gak nentu waktu penjemurannya. Pernah lagi ngebata mau menjemur tiba-tiba hujan besar. Dari tanahnya juga kalau adonannya gak bagus, batanya gampang pecah,” ungkapnya.

Bata merah yang diproduksi oleh Asmiri dan rekan-rekannya tersebut biasanya dikirim ke wilayah Serang hingga Jakarta. Batu bata yang sudah siap untuk dikirim, dibanderol dengan harga sekitar Rp250.000 hingga Rp300.000 per seribu keping batu bata.

(Tra/Nin/Red)