Beranda Bisnis Melihat Produksi Gerabah di Ciruas yang Masih Eksis Sejak Zaman Kesultanan Banten

Melihat Produksi Gerabah di Ciruas yang Masih Eksis Sejak Zaman Kesultanan Banten

Salah Satu Perajin Gerabah Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. (Foto: Nindia/BantenNews.co.id)

KAB. SERANG – Gerabah merupakan salah satu seni kriya yang sudah dikenal sejak dahulu kala. Di era sekarang, para perajin gerabah sudah banyak menggunakan teknologi modern dan sudah menggunakan berbagai macam warna.

Salah satu sentra pembuatan gerabah yang para perajinnya masih menggunakan teknik tradisional dalam pembuatannya yaitu berada di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. Perajin ini masih eksis sejak zaman Kesultanan Banten.

Ciri khas gerabah yang berada di Desa Bumijaya adalah para perajinnya masih mempertahankan untuk tidak memakai motif pewarnaan. Meskipun tidak berwarna seperti produk-produk seni kriya dari luar negeri, namun gerabah Desa Bumijaya masih banyak diminati karena terkenal dengan kualitas tanah liatnya yang bagus.

Miskat, salah satu perajin sekaligus pemilik usaha gerabah Kowi mengatakan usaha gerabah tersebut sudah ia tekuni secara turun-temurun. Kowi sendiri adalah gerabah berbentuk seperti mangkok yang biasa digunakan sebagai wadah untuk meleburkan emas atau logam.

“Sudah dari zaman nenek moyang saya kalau usaha ini. Di Serang ini ya cuma di desa ini satu-satunya usaha gerabah yang udah berdiri dari dulu zaman sultan. Mayoritas penduduk sini ya perajin gerabah semua,” ujarnya kepada BantenNews.co.id, Sabtu (20/3/2021).

Bahan dasar pembuatan gerabah Kowi sama dengan bahan dasar pembuatan gerabah lainnya yaitu berupa tanah liat dan pasir. Tanah liat dan pasir dibeli oleh Miskat melalui pengepul tanah liat dan pasir dengan masing-masing harganya yaitu sekitar Rp100 ribu.

Sebelum membentuk tanah liat menjadi Kowi, Miskat dan keempat rekannya melakukan pencampuran tanah liat dengan pasir terlebih dahulu lalu pengulian tanah liat. Pengulian tanah liat sendiri dilakukan agar tanah liatnya homogen dan tidak terdapat gelembung udara, jika di dalam tanah liat masih terdapat gelembung udara maka akan sulit dibentuk menjadi Kowi dan jika dapat terbentuk pun Kowi akan mudah pecah saat dikeringkan maupun dibakar.

“Kalau adonannya udah jadi baru tuh diulet (pengulian). Diuletnya masih sederhana juga ya pakai tangan aja. Kalau sudah diulet, baru dibentuk di atas meja putar,” terangnya.

Untuk membentuk Kowi, Miskat masih menggunakan alat putar manual yang digerakkan menggunakan tangan. Setelah tanah liat terbentuk menjadi Kowi, selanjutnya adalah proses pengeringan. Proses pengeringan juga menjadi hal yang penting karena jika masih ada Kowi yang belum kering sempurna kemudian dimasukkan dalam pembakaran, maka Kowi tersebut rentan pecah saat dibakar.

Miskat adalah salah satu perajin gerabah di Desa Bumijaya yang masih menggunakan pembakaran secara tradisional, namun seiring berjalannya kondisi cuaca yang kian tidak menentu, ia bersama rekan-rekannya berinovasi untuk membuat tungku pembakaran Kowi.

“Lagi buat tungku buat ngebakar gerabahnya biar musim hujan tetap bisa kerja dan jadi Kowinya,” katanya.

Dalam satu bulan, biasanya Miskat dan rekan-rekannya dapat membuat Kowi mencapai 1500 Kowi. Kowi tersebut ia jual mulai dari harga Rp2500 hingga Rp15000, harga tersebut tergantung dari ukuran Kowi.

Miskat menuturkan dengan adanya pandemi tidak berpengaruh pada permintaan Kowi. Permintaan Kowi yang dibuat oleh Miskat serta rekan-rekannya cenderung stabil dan meningkat. Para peminat Kowi ini biasanya datang dari Jakarta hingga Kepulauan Riau.

(Tra/Nin/Red)