Beranda Opini Maulid Nabi Muhammad SAW : Cinta Nabi Cinta Syariah

Maulid Nabi Muhammad SAW : Cinta Nabi Cinta Syariah

598
0
Ilustrasi - foto istimewa liputan6.com

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag, Pegiat literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (TQS. Saba: 28).

Di dalam kita Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah, Allah mengabarkan bahwa mengutus Muhammad bagi seluruh manusia agar mengabarkan akan tauhid dan balasan dari Allah, dan agar memperingatkan mereka dari kesyirikan dan adzab Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ilmu yang benar bahwasannya Allah mengutus Rasulullah bagi jin dan manusia (lihat: tafsirweb.com).



Indonesia sebagai mayoritas muslim terbesar di dunia, tak pernah absen dalam merayakan Maulid Nabi SAW. Hal ini sebagai wujud rasa cinta yang begitu besar pada Baginda Nabi SAW, Rasul dan teladan bagi umat Islam. Apalagi di sebagian besar daerah atau kota di Indonesia, banyak sekali pondok pesantren ikut serta merayakan maulid, misalnya dengan shalawatan, perlombaan-perlombaan seperti ceramah/pidato, kebersihan antar kamar, cerdas cermat antar kelas, bahsul kutub atau membaca kitab gundul (tanpa syakal) dan sebagainya.

Banyak hal dilakukan dalam merayakan Maulid Nabi SAW, tradisi di Banten misalnya di setiap kampung selain mengadakan pengajian dan shalawatan. Juga membuat kreasi seni hiasan entah dari bahan apa saja di sebuah mobil. Kemudian berkeliling kota sesuai jadwal dengan tertib, sambil membaca shalawat. Masyarakat begitu senang melakukannya, terbukti setiap tahun dirayakan disambut dengan penuh gembira. Walau harus begadang dan mengeluarkan materi yang tak sedikit untuk menghias mobil atau benda apapun.

Akan tetapi, diharapkan euforia perayaan maulid ini tidaklah sekadar perayaan an sich. Bahwa wujud atau esensi memperingati Maulid Nabi ialah mengikuti apa saja yang pernah dilakukan oleh Rasul SAW sepanjang hidup. Umat Islam paham, bahwa diutusnya Rasul SAW ke muka bumi membawa risalah Islam untuk disebarkan ke seluruh alam.

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (TQS. At Taubah: 33).

Meyakini bahwa Rasul adalah utusan Allah SWT, diutus ke dunia membawa risalah Islam untuk dimenangkan atas segala agama. Oleh karenanya Rasul SAW, melakukan aktivitas dakwah sepanjang hayat. Karena hanya dengan aktivitas dakwah lah risalah Islam bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia dan bisa dimenangkan atas izin Allah. Sejarah mencatat, awal mula risalah Islam di Mekkah, lalu tersebar ke Madinah dan Jazirah Arab.

Dilanjutkan oleh para sahabat, terutama di masa Umar RA. Islam berkembang begitu pesat. Wilayah kekuasaan Islam mulai dari Mesopotamia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara, Armenia, serta sebagian wilayah Persia. Hal ini karena para sahabat mengikuti jejak Rasul SAW dalam berdakwah menyebarkan Islam. Jika aktivitas dakwah tak dilanjutkan oleh para sahabat dan khalifah setelahnya, maka bagaimana Islam bisa tersebar luas hingga di masa Utsmaniyah menguasai hampir 2/3 belahan dunia.

Islam bisa dirasakan kelembutannya, warga non muslim pun bisa merasakan kenyamanan, ketenteraman dan keamanan di bawah aturan Islam. Tidak berlebihan jika para tokoh dunia menilai bagaimana selama Islam mengatur kehidupan. Misalnya, Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.” (Jacques C. Reister)

Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.” (Montgomery Watt)

“Peradaban berhutang besar pada Islam.“ (Presiden AS, Barack Obama)

Oleh karenanya, wujud cinta terhadap Baginda Nabi SAW, ialah dengan mengikuti jejaknya dalam berdakwah, mencintai syariah sebagai risalah. Bukan mencibir, membenci bahkan menghalangi saudara sesama muslim yang ingin mendakwahkan risalah syariah. Apalagi kehidupan saat ini banyak sekali kerusakan, free sex di kalangan generasi muda hal biasa bahkan menjadi fenomena gunung es. Pandemi belum terlihat akan berakhir, krisis berdampak resesi di bidang ekonomi, dan masih banyak lagi.

Patut menjadi renungan, mengapa segala kerusakan ini terjadi? Ibarat mobil rusak atau mogok, apa yang salah pada mobil tersebut, sudahkah mengikuti arahan di buku petunjuk mobil tersebut? Manusiapun sama, apakah manusia sudah mengikuti petunjuk risalah yang dibawa Rasul SAW, ataukah ada yang melenceng. Jika ada yang melenceng, maka harus segera diluruskan agar kembali sesuai arahan petunjuk yang dibawa Rasul. Agar kehidupan yang penuh kerusakan ini bisa kembali berjalan normal sesuai arahan penciptaannya oleh Sang Pencipta.

Allahu A’lam Bi Ash Shawab.

(***)