KAB. SERANG — Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan di tengah besarnya beban layanan yang harus ditangani pemerintah daerah.
Dengan ratusan ribu siswa dan ribuan satuan pendidikan, persoalan kualitas hingga pemerataan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama insan pendidikan di Gedung Serba Guna Ponpes Bai Mahdi Soleh Ma’mun, Kecamatan Pabuaran, Selasa (14/4/2026).
Data yang dipaparkan menunjukkan skala tantangan yang tidak kecil. Kabupaten Serang memiliki sekitar 746 SD, 208 SMP, serta lebih dari 1.118 PAUD yang tersebar di berbagai wilayah. Jumlah tersebut menuntut pengelolaan yang serius, bukan sekadar program normatif.
“Pendidikan ini sektor strategis. Dengan jumlah satuan pendidikan sebanyak itu, kita bicara pelayanan untuk ratusan ribu peserta didik,” ujar Zakiyah.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyusun lima fokus utama, yakni perbaikan sarana dan prasarana, peningkatan kompetensi guru, program beasiswa, penanganan anak tidak sekolah (ATS), serta penguatan pendidikan karakter. Namun, tantangan di lapangan menunjukkan implementasi program tersebut belum sepenuhnya merata.
Isu anak putus sekolah dan kualitas fasilitas pendidikan di wilayah pinggiran masih menjadi sorotan. Selain itu, peningkatan kompetensi guru dinilai krusial agar tidak tertinggal dari perkembangan kebutuhan pendidikan saat ini.
Di sisi lain, Zakiyah juga mendorong sekolah membiasakan pola hidup bersih melalui gerakan pengurangan sampah, seperti penggunaan botol minum pribadi dan kerja bakti rutin. Meski demikian, langkah ini dinilai masih bersifat dasar dan belum menyentuh akar persoalan pendidikan secara menyeluruh.
Pemkab Serang juga menjanjikan program beasiswa bagi tenaga pendidik sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, efektivitas program ini akan sangat bergantung pada konsistensi anggaran dan pengawasan.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menggagas lomba guru, kepala sekolah, dan sekolah terbaik dengan total hadiah Rp200 juta dari dana pribadi. Ia menekankan penilaian harus objektif dan bebas dari kepentingan.
Langkah-langkah tersebut membuka harapan, namun publik masih menunggu realisasi konkret di lapangan, terutama terkait pemerataan kualitas pendidikan dan penuntasan anak tidak sekolah yang hingga kini belum terselesaikan sepenuhnya.
Penulis: Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor: Usman Temposo
