Beranda Opini Maraknya Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Ditinjau Dari Perspektif Sosiologi

Maraknya Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Ditinjau Dari Perspektif Sosiologi

Ilustrasi - foto istimewa google.com

Oleh : Patma Sulistiana, Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Pendidikan merupakan alat perubahan yang bisa membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju. Menurut H. Fund Ihsan (2005:1) pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.

Pendidikan juga sangat berperan dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Namun, seiring berjalannya waktu terdapat berbagai macam permasalahan di lingkungan pendidikan, salah satu permasalahan yang menjadi sorotan adalah semakin maraknya kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan Indonesia.

Kekerasan seksual merupakan sebuah tindakan atau intimidasi yang berhubungan dengan seksualitas yang dilakukan oleh pelaku terhadap korbanya dengan cara memaksa. Dari tahun ketahun kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan Indonesia terus meningkat, pada tahun 2019 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 153 pengaduan kekerasan fisik dan psikis di lingkungan sekolah.

Angka tersebut belum termasuk kepada kasus-kasus lain yang tidak dilaporkan, bisa saja jumlah kekerasan yang diterima oleh anak di lingkungan pendidikan jauh lebih banyak dari pada angka yang didapat oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dilansir dari cnnindonesia.com bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan pelaku kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sepanjang 2019 di dominasi oleh guru, khususnya guru mata pelajaran olahraga. Rata-rata korban kekerasan seksual adalah perempuan, hal tersebut selaras dengan pernyataan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dilandir dari Suara.com bahwa pada Januari hingga Oktober 2019 tercatat 17 kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dengan korban 89 anak, yang terdiri dari 55 perempuan dan 34 laki-laki.

Dalam struktur sosial terdapat status dan peran, guru memiliki status sebagai tenaga pendidik yang dianggap sebagai panutan, guru juga memiliki peran sebagai seorang pengajar, pendidik, dan pembimbing. Potret kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum guru merupakan suatu gambaran bahwa adanya ketidak sesuaian antara status dan peran yang terjadi di lingkungan pendidikan, dimana seharusnya guru menjadi seseorang yang membimbing dan memotivasi siswa, justru melakukan tindakan yang berbanding terbalik dengan peran yang ia miliki yaitu melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap siswa sehingga otomatis akan membuat siswa mengalami gangguan fisik dan psikis.

Salah satu teori sosiologi yang dapat digunakan sebagai pisau analisis maraknya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan adalah teori anomie. Sosiolog asal Prancis yaitu Emile Durkheim mengemukaan jika anomie adalah perilaku tanpa arah karena tidak adanya norma yang memagari perilaku anggota kelompok atau ketidakmampuan sistem sosial dalam mengontrol nilai-nilai yang seharusnya menjadi pagar dalam sebuah komunitas. Kondisi ini dapat memunculkan kekacauan atau pelanggaran hukum yang terus menerus.

Perubahan sosial yang terjadi begitu cepat seperti dewasa ini dapat menimbulkan anomie, kemajuan teknologi yang semakin pesat dan canggih membuat siapa saja bisa mengakses informasi di internet mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, salah satu hal yang dapat diakses di internet adalah film-film “dewasa”, dengan mudahnya mengakses hal tersebut dapat menimbulkan dorongan kepada individu untuk melakukan tindakan-tindakan seksual, dan bisa saja membuat seseorang melakukan tindakan seksual kepada orang lain dengan cara yang tidak sah, bahkan dapat membuat seseorang melakukan tindakan kekerasan seksual tanpa memperhatikan nilai dan norma, seseorang tersebut malah menjalankan apa yang bertentangan dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat. Kekerasan seksual tersebut dapat berupa pedophilia, yang mana kasus tersebut sering ditemukan pada kekerasan seksual di lingkungan pendidikan oleh oknum guru terhadap siswa.

Kekerasan seksual tidak hanya dilakukan oleh oknum guru, tetapi kekerasan seksual juga terjadi dikalangan sesama siswa, dilansir dari detikNews pada tanggal 13 Maret 2020 Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan Bungo Jambi mengkonfirmasi berita kekerasan seksual pemerkosaan yang menimpa siswi kelas 2 SD oleh 4 kakak kelasnya, peristiwa tersebut terjadi dalam lingkungan sekolah saat jam sekolah pula.

Korban kekerasan seksual akan mengalami gangguan fisik atau pun psikis. Korban kekerasan seksual akan cenderung mengalami trauma, dimana trauma tersebut dapat menyebabkan depresi sehingga kesehatan mental korban kekerasan seksual akan terganggu. Ketika siswa mengalami kekerasan seksual maka otomatis siswa akan mengalami depresi dan hal tersebut akan mengganggu proses pendidikan yang sedang ia jalani. Bukan hanya depresi tetapi hilangnya rasa percaya diri dan harga diri juga menjadi dampak dari kekerasan seksul.

Tujuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia akan sulit tercapai jika masih banyak terjadi kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan itu sendiri. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dan mencegah terjadinya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan antara lain seperti penerapan dan penguatan pendidikan karakter dan pengenalan pendidikan seks sejak dini terhadap anak, agar mereka bisa mengetahui apa saja jenis kekerasan seksual dan bagaimana cara melindungi diri mereka agar terhindar dari kekerasan seksual tersebut.

Tidak hanya itu, anak juga dibekali pengetahuan tentang bagaimana berperilaku yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang ada dimasyarakat agar mereka tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Dan tentu guru haruslah memberi arahan dan memberikan contoh yang baik kepada siswa karena sejatinya guru adalah role model bagi para siswa yang akan menjadi generasi penerus bangsa Indonesia.

(***)