Beranda Peristiwa Mahasiswa Kota Serang Kritisi Melemahnya Rupiah

Mahasiswa Kota Serang Kritisi Melemahnya Rupiah

Aksi mahasiswa di Kota Serang mengkritisi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika. (Ade/bantennews)

SERANG – Sejumlah mahasiswa mengadakan aksi prihatin atas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS. Aksi pertama dilakukan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Serang di depan gedung DPRD Kabupaten Serang pada pagi hari, sedangkan aksi selanjutnya dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Serang di sore hari bertempat di depan Kampus A Untirta, Jumat (7/9/2018) kemarin.

Kedua organisasi mahasiswa ini menyatakan kekhawatirannya akan dampak kenaikan dolar yang jika tidak segera diatasi akan memberikan beban kepada seluruh masyarakat. “Melemahnya mata uang rupiah terhadap dollar berimplikasi kepada instabilitas ekonomi baik pada ruang lingkup perekonomian mikro maupun makro ekonomi dan pada akhirnya lagi-lagi rakyatlah yang merasakan dampaknya baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujar Ketua KAMMI Serang, Fitra Nugraha.

Pihaknya menyayangkan, apabila pemerintah masih berkutat dengan pembangunan infrastruktur yang mengandalkan pembiayaannya dari utang negara. “Karena sejatinya itu malah semakin memperkeruh dan memperburuk kestabilan ekonomi dan keuangan negara, bahkan juga menciptakan ketergantungan,” lanjutnya.

Sebab itu, KAMMI Kota Serang menuntut kepada pemerintah agar membatalkan pertemuan antara IMF dengan World Bank yang akan dilaksanakan beberapa waktu ke depan, selain itu juga menuntut nasionalisasi aset, terutama di pertambangan.

“Pemerintah wajib mendorong investor lokal untuk menanamkan modal di Indonesia, lalu harus meningkatkan daya ekspor atas barang jadi dan pemerintah harus mampu menurunkan daya impor barang,” ujarnya.

Ketua HMI MPO Cabang Serang Ubeidillah mengatakan, kondisi Indonesia saat ini sangat darurat. Ia berargumen, hal tersebut bukan hanya karena melemahnya nilai tukar rupiah, namun juga karena sikap-sikap abai pemerintah saat ini.

“Seperti menolak ditetapkannya Lombok sebagai bencana nasional, korupsi berjamaah, ataupun rusaknya iklim demokrasi dengan adanya tindakan-tindakan persekusi terhadap oposisi, ini juga memperparah kondisi Indonesia dengan turunnya nilai rupiah,” ujarnya. (Dhe/Red)