Beranda Opini Luka Insan, Luk(a)isan, Lukisan

Luka Insan, Luk(a)isan, Lukisan

224
0
Ilustrasi. (net)

Luka Insan, Luk(a)isan, Lukisan

Oleh : Arip Senjaya

‘Tidak ada seni yang bukan merupakan tindakan perlawanan yang disublimkan,’ demikian Cixous (2013) memulai kalimat pada salah satu esainya “Paintings”. Pain adalah rasa sakit, dan dalam bahasa Norwegia ting (tanpa ‘s’) berarti sesuatu dan dalam bahasa Inggris ditulis things. Paintings adalah sesuatu yang mengandung rasa sakit. Bukan kebetulan jika sesuatu dengan sesuatu yang lain berhubungan. Kita akan lihat beberapa hal lainnya yang berdekatan secara linguistik dan berhubungan dengan paintings ini.

Pada paint (cat) terdengar juga bunyi pain (rasa sakit). Itu sebabnya Cixous menulis esai dengan pain yang miring disamping tings yang tegak seakan menonjolkan ‘luka’ pada lukisan yang secara kebetulan bisa kita adopsi menjadi lukaisan. Dan itu ada benarnya: seorang pelukis tidak melukiskan kehidupan tanpa rasa sakit, bukan? Ini bedanya tukang gambar dengan pelukis.

Saking sakitnya cerita-cerita dalam lukisan, waktu kecil saya dan teman-teman suka bercanda, melukis adalah memeluk dan meng-kiss. Kalau dikaitkan dengan paintings/lukaisan, ‘memeluk dan meng-kiss’ juga mengandung makna rasa sakit. Kalau saya memeluk dan meng-kiss istri, tidakkah karena saya menderitakan kehidupan, padahal saya bukan pelukis?

Kelebihan pelukis tidak hanya memeluk dan meng-kiss istrinya, tetapi juga mencurahkan rasa sakit itu pada bidang gambar. Wajar jika istri sejumlah pelukis mungkin cemburu pada kanvas di “pelukan” suaminya yang bagai tak henti-hentinya tabah menderita cucuran air mata tinta. ‘Tinta’ sendiri dekat benar dengan ‘cinta’ dan cinta yang memadai mengandung unsur luka kehidupan. Cinta adalah pelarian dari luka. Luka dan bisa yang dibawa berlari, kata Chairil Anwar dalam puisi “Aku”, menghilangkan pedih perih. Itu sebabnya Damono (2018) memandang huruf-huruf tulis sebagai gambar, puisi sebagai gambar, dan akhirnya gambar sebagai cerita, cerita luka insan. Kini saya kadang membaca ‘lukisan’ sebagai ‘luka insan’.

Dalam bahasa Perancis lihatlah ungkapan à la peinture et à la peine (melukis dan menghukum). Menghukum itu menciptakan rasa sakit dan yang terhukum menderitakan rasa sakit. Pelukis bisa saja melukai dirinya sendiri secara metodis sehingga ia adalah penghukum sekaligus terhukum. Sekurang-kurangnya melukis dengan susah payah adalah sebuah penghukuman atas diri sendiri –sadar atau tidak– dan penghukum di mana pun berharap puas, berharap hilang pedih perih. Setiap lukisan yang dinyatakan beres ibarat kata sudah puas menyiksa terhukumnya.

Di Perancis kata opération yang diucapkan sehari-hari dan tidak formal sama sekali berhubungan dengan urusan luka pula. Kata ini diolah sedemikian rupa oleh Derrida dalam bab kedua buku Veils (2002) setelah Cixous menulis “Savoir” (Tahu) sebagai operasi. Dalam bahasa Inggris kita akan temukan surgery dan operation yang artinya sama-sama pembedahan. Tapi surgery jelas merupakan operasi fisik. Kata operasi berakar pada bahasa Latin opus yang digunakan dalam musik, biasa disingkat Op. (‘karya’) dan ternyata mengoperasikan sebuah oeuvre yang dalam bahasa Perancis akan ditemukan bentukan sejenis pada kata manoeuvre (operasi militer), tapi kita terjemahkan menjadi ‘manuver’ sehingga lebih luas dan menyembunyikan (détournement) aspek militeristiknya.

Dengan meluk(a)is, seniman dapat mengoperasi diri yang adalah juga bagian dari realitas yang lebih besar: dirinya dan diri sosialnya. Karena itu bahaya jika melukis kehilangan luka diri dan luka sosial sebab itu berarti telah hilangnya makna pain dan operasi pada pengertian manoeuvre, kekerasan kekuasaan yang beroperasi pada tubuh insan secara individual dan sosial. (*)

Arip Senjaya, pengajar Filsafat Bahasa tinggal di Serang, Banten.