Beranda Sosial dan Budaya Lobi Listrik untuk Cilegon Terjadi di Bandung, Ini Sejarahnya

Lobi Listrik untuk Cilegon Terjadi di Bandung, Ini Sejarahnya

Gedung Gebeo atau yang sekarang dikenal dengan Gedung PLN di tepi sungai Cikapundung, Bandung. (Foto: serbabandung.com)

Distrik Cilegon masih gelap gulita pada tahun 1927 silam. Hanya ada terang bulan dan lampu minyak di beberapa rumah penggede kewedanaan dan birokrat era kolonial.

Di perkampungan, kehidupan seolah berhenti pada malam hari. Hanya garong dan para kaum kriminal yang memanfaatkan gelap malam hari sebagai perlindungan sempurna melancarkan aksi kejahatan.

Tapi pada tahun itu pula, trejadi negoisiasi antara regentschapsraa (regent) Serang dengan Gebeo untuk aliran listrik masuk distrik Cilegon.

Kabar tersebut dikirim dari Bandung kepada Het Nieuws Van Den Dag yang terbit Jumat, 25 Maret 1927. “Sedang berlangsung negosiasi antara regentschapsraa (dewan) Serang dan Gebeo (Bandoeng en Omstreken) tentang elektrifikasi Cilegon. Jika negosiasi pembicaraan tersebut membuahkan hasil yang baik, elektrifikasi dapat diharapkan tahun ini,” demikian tulis Het Nieuws Van Den Dag.

Dalam catatan sejarah, Bandoeng en Omstreken (Gebeo N.V.) sendiri merupakan perusahaan listrik yang melakukan pendistribusian listri untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Awalnya Gebeo bernama Bandoengsche Electriciteit Maatschappij (BEM) yang berdiri pada 1905. Kemudian berubah menjadi Gebeo N.V. pada 1920.

Dilansir dari Serbabandung.com, perusahan ini memiliki izin pendistribusian listrik berdasarkan Surat Keputusan No. 24 tanggal 30 Januari 1923/1928. Sedangkan pengelolaan pembangkit listrik dilakukan pemerintah lewat dinas Waterkracht en Electriciteit.

Pada 1957 pengelolaan dan penguasaan kelistrikan di seluruh wilayah Indonesia mulai dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 17 Desember 1957 Gebeo diambil alih oleh Pemerintah Indonesia.

(you/red)