Beranda Budaya Literasi Seni Silat Terumbu Banten Mutakhir

Literasi Seni Silat Terumbu Banten Mutakhir

Literasi Seni Silat Terumbu Banten Mutakhir 

Oleh Ahmad Supena

Pencak silat di ranah Banten bukan sekadar instrumen pertahanan fisik, melainkan sintesis nilai spiritual, identitas sosial, dan heroisme lokal. Secara historis, heroisme ini berakar dari pesantren-pesantren tradisional tempat para kiai menempa santri dengan syariat agama sekaligus ilmu kanuragan untuk melawan kolonialisme. Di antara jejaring aliran besar seperti Cimande dan Bandrong, Silat Terumbu menempati posisi legendaris sebagai salah satu fondasi utama bela diri di Bumi Surosowan.

Namun, memasuki abad ke-21, realitas globalisasi, digitalisasi, dan pergeseran orientasi generasi muda membawa tantangan eksistensial bagi kesenian tradisional. Silat Terumbu dituntut tidak hanya bertahan sebagai memori kolektif, tetapi juga bertransformasi agar tetap relevan tanpa kehilangan karakteristik dasarnya. Oleh karena itu, kajian mengenai perkembangan mutakhir Silat Terumbu menjadi krusial untuk memetakan bagaimana tradisi ini bernegosiasi dengan modernitas.

 

HISTORIS SILAT TERUMBU 

Silat Terumbu didirikan oleh Syaikh Datul Khofi Al-Khofi’an bin Yunus pada masa pra-Kesultanan Banten atau awal pembentukannya. Aliran ini sejak awal memiliki corak islami yang sangat pekat. Hubungan geneologis antara guru silat, kiai, dan santri membangun ikatan “sanad” keilmuan yang tidak terputus. Penguasaan jurus fisik selalu berjalan beriringan dengan pembersihan jiwa melalui wirid, zikir, dan pendalaman tarekat sufistik.

Secara teknis, Silat Terumbu memiliki karakteristik gerak yang adaptif, mengandalkan kecepatan, kelenturan, dan pemanfaatan momentum lawan. Berbeda dengan Cimande yang terkenal dengan kekokohan pertahanan komparatifnya, Terumbu mengombinasikan:

Kembangan Otentik: Gerakan seni visual yang tampak lembut dan estetis untuk mengelabui kewaspadaan lawan.

Serangan Taktis: Transisi instan dari pola kembangan lembut menjadi serangan cepat yang menyasar titik vital musuh.

Baca Juga :  Prasasti Munjul, Jejak Hindu - Budha di Tanah Banten

Permainan Senjata: Kemahiran tinggi dalam penggunaan senjata tradisional seperti golok Banten, trisula, dan tongkat kayu pendek.

 

PERKEMBANGAN MUTAKHIR 

Dahulu, Silat Terumbu diwariskan secara informal di halaman rumah kiai (depokan) atau area dalam pesantren. Pada era mutakhir, para pemegang mandat keilmuan mengonsolidasikan diri dengan membentuk struktur organisasi modern yang legal, di antaranya melalui payung Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) serta paguyuban kebudayaan lokal. Formalisasi ini melahirkan kepengurusan terstruktur dari tingkat pusat hingga ranting, sehingga administrasi keanggotaan dan standardisasi kurikulum materi jurus dapat dikelola secara profesional.

Salah satu lompatan terbesar dalam perkembangan mutakhir Silat Terumbu adalah keberhasilannya masuk ke dalam dunia pendidikan formal. Pemerintah Provinsi Banten mengintegrasikan pencak silat khas Banten ke dalam mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) di tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK.

Standardisasi Materi: Jurus-jurus dasar Terumbu disederhanakan menjadi paket koreografi senam pencak silat demi keselamatan siswa.

Pengembangan Karakter: Institusi sekolah memanfaatkan silat sebagai media pembentukan karakter (character building) berbasis disiplin, rasa hormat (ta’dzim), dan nasionalisme.

Silat Terumbu tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ilmu pertahanan diri atau pengisi ritual adat. Melalui IPSI, para atlet dari pergurun Terumbu kini aktif berkompetisi dalam ajang olahraga resmi, mulai dari O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), Porprov (Pekan Olahraga Provinsi), PON (Pekan Olahraga Nasional), hingga kejuaraan tingkat internasional. Pergeseran ini memaksa perguruan mengadopsi regulasi pertandingan modern, yang memisahkan antara kategori “Tanding” (fisik/skor) dan Kategori “Seni” (tunggal, ganda, regu).

 

TANTANGAN, ADAPTASI, DAN DIGITALISASI 

Arus globalisasi membawa gelombang budaya populer seperti Mixed Martial Arts (MMA), Muay Thai, dan KPop yang sangat memikat generasi Z dan Alpha. Silat tradisional sering kali dilabeli kuno atau mistis oleh sebagian kalangan urban. Hal ini memicu penurunan minat alami jika perguruan tetap menggunakan metode promosi konvensional.

Menghadapi tantangan tersebut, aktor-aktor kontemporer Silat Terumbu melakukan digitalisasi budaya secara masif:

Konten Kreatif: Pengarsipan dokumentasi jurus dan dokumentasi festival silat dialihkan ke platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram.

Cinematic Martial Arts: Pembuatan video pendek dengan sinematografi modern yang menampilkan estetika jurus Terumbu guna menarik minat generasi muda.

E-Registration: Beberapa cabang perguruan mulai merintis pendaftaran murid baru dan pengelolaan database anggota berbasis daring.

 

SIMPULAN 

Seni Silat Terumbu di Banten saat ini berada pada fase transformasi kultural yang krusial. Pergeseran dari pola pengajaran pesantren tradisional yang tertutup menuju sistem organisasi modern yang terbuka dan inklusif terbukti mampu menjaga eksistensi aliran ini. Melalui integrasi pendidikan formal, prestasi olahraga, dan pemanfaatan media digital, Terumbu berhasil mendobrak stigma kuno dan memosisikan diri sebagai identitas kultural yang relevan di era global. Sinergi keberlanjutan antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan para pendekar (jawara) menjadi penentu utama agar Silat Terumbu tetap lestari sebagai warisan luhur Banten yang mendunia. (*)

Baca Juga :  Asal Usul Ketupat Jadi Sajian Khas Lebaran, Bermula dari Media Dakwah Sunan Kalijaga

 

Kajur Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Untirta