Beranda Akademi Literasi Anak Usia Dini di Era Revolusi Industri 4.0

Literasi Anak Usia Dini di Era Revolusi Industri 4.0

Indri, Mahasiswa Teknik Industri Universitas Pamulang

Oleh : Indri, Mahasiswa Teknik Industri Universitas Pamulang

Sepanjang rentang peradaban zaman yang berubah dan semakin maju, saat ini kita berada pada zona Revolusi Industri 4.0. Istilah ini masih belum di ketahui banyak orang. Bagi pendidik dan peserta didik disiapkan untuk menciptakan ide kreatif dan dengan menggunakan kemampuan teknologi. Pendidikan 4.0 adalah suatu program yang di rancang untuk mewujudkan pendidikan yang cerdas dan kreatif. Pendidikan 4.0 menghasilkan empat aspek yang sangat di butuhkan di era milenial ini yaitu kolaboratif, komunikatif, berfikir kritis dan kreatif.

Bicara mengenai zona Revoluasi Industri 4.0, di sini ada sistem literasi yang bagus untuk anak usia dini. Sebelumnya saya akan menjelaskan terkait literasi. Literasi adalah pendidikan yang mengajarkan kepada anak usia dini untuk membaca, menulis, berpikiran kritis terhadap lingkungannya. Peran literasi sangat berpengaruh bagi perkembangan anak usia dini. Maka dari itu anak harus di dorong atau istilahnya di berikan stimulus, sehingga kemampuan literasi anak dapat meningkat. Mereka harus di dorong agar berpikir kritis terhadap lingkungannya sehingga tidak tertinggal dengan perkembangan zaman.

Menurut Joyce, Weil & Chalhoun (2004) mengemukakan anak belajar literasi secara imiah. Dengan demikian periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan usia enam tahun. Pada periode tersebut anak memperoleh literasi tidak melalui pengajaran, tetapi melalui perilaku yang sederhana dengan mengamati dan berpartisipasi pada aktivitas yang berkaitan dengan literasi.

Pada era zona Revoluasi Industri 4.0, terjadi pemerosotan pada kemampuan literasi anak usia dini. Seperti literasi di era digital, kurangnya pendampingan dan arahan orang tua untuk mengawasi anak saat menjelajahi dunia Internet. Saat anak di bebaskan menjelajahi dunia Internet tanpa adanya dampingan dan arahan, maka dikahawatirkan anak akan terperosot dalam pikiran atau perilaku yang negatif.

Secara tidak sengaja orang tua telah membiarkan sistem kerja otak anak rusak, yang padahal otak anak itu dapat berkembang dengan bagus ketika memperoleh ilmu pengetahuan yang positif, akibatnya moral tidak terbentuk dengan baik, emosional anak yang tidak terkenadali dan timbulnya halusinasi negatif yang akan tumbuh dalam pikiranya yang tidak kita ketahui.

Orangtua harus meluangkan waktu untuk mengawasi dan megarahkan anak untuk memberikan pengertian tentang hal yang baik maupun yang tidak baik. Orang tua harus lebih peduli terhadap kehidupan anaknya, memperhatikan perkembangannya, apa yang sedang dia lakukan dan apa yang sedang dimainkan.

Pentingnya penanaman literasi pada anak sejak dini, supaya kekhawatiran anak terperosot dalam pikiran dan perilaku negatif terhadap dunia Internet, yaitu dengan cara peran orang tua meluangkan waktu untuk mengawasi dan memberikan pendidikan yang benar sehingga karakter anak terbentuk dengan baik.

Peran orang tua sangat penting dalam memfasilitasi anak untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian dengan memprioritaskan penguasaan terhadap enam dimensi literasi keluarga, yaitu (1) literasi baca tulis, (2) literasi numerasi, (3) literasi sains, (4) literasi digital, (5) literasi finansial, dan (6) literasi budaya dan kewargaan.

1.    Literasi Baca Tulis

Membaca tidak hanya sekadar memperoleh informasi tetapi anak juga perlu mengembangkan kecepatan dan kekritisan dalam membaca untuk memperoleh pemahaman terhadap isi teks yang dibaca secara komprehensif. Untuk dapat memahami isi dari bacaan diperlukan fokus dan konsentrasi yang baik. Oleh karena itu, orang tua perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk aktivitas membaca di rumah.

2.    Literasi Numerasi

Literasi numerasi berperan dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam keluarga berdasarkan data-data kuantitatif yang tersaji dalam bentuk angka (numerik), grafik, tabel, atau bagan.

3.    Literasi Sains

Literasi sains di dalam keluarga berperan untuk meningkatkan antusiasme setiap anggota keluarga dalam mengaplikasikan kecakapan sains dalam kehidupan sehari-hari. Literasi sains di keluarga dapat ditumbuhkembangkan salah satunya melalui bentuk-bentuk pembiasaan yang dilakukan secara konsisten sehingga anggota keluarga memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

4.    Literasi Digital

Budaya literasi digital di dalam keluarga terutama bagi anak-anak dapat meningkatkan kesadaran dalam penggunaan media digital dalam kehidupan sehari-hari secara cerdas dan bijaksana. Anggota keluarga dapat berkolaborasi untuk mengoptimalkan peran media digital dalam membina komunikasi dan interaksi antar anggota keluarga yang lebih harmonis serta untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat bagi kebutuhan keluarga.

5.    Literasi Finansial

Melalui literasi finansial, keluarga diharapkan mampu menetapkan skala prioritas konsumsi keluarga dengan mendahulukan kebutuhan primer dibandingkan kebutuhan sekunder maupun tersier. Selain itu literasi finansial memungkinkan terjadinya peningkatan kesadaran setiap anggota keluarga dalam menggunakan produk jasa keuangan seperti bank, asuransi, maupun investasi yang kredibel untuk melakukan transaksi finansial.

6.    Literasi Budaya dan Kewargaan

Literasi budaya dan kewargaan di keluarga, khususnya bagi anak-anak memberikan pemahaman terhadap kebudayaan nasional sebagai identitas bangsa serta hak dan kewajiban sebagai warga negara mulai dari usia dini.

(***)